Friday, 03-12-2021
Bali

Wawan Tuangkan Petualangan Lawas Suganda dalam Buku “Bali Jadul”

Denpasar (BBN INDONESIA) – Sebuah buku yang menceritakan petualangan dan wajah Pulau Dewata di era tahun 19qb50 an hingga 1970 an berjudul “Bali Jadul” atau ‘Bali Zaman Dulu’ karya Putu Setiawan diluncurkan di Denpasar, Kamis (21/10/2021).

Sang penulis adalah jurnalis stasiun TV swasta SCTV/Indosiar yang bertugas di Bali.

Buku setebal 253 halaman ini dirilis oleh penerbit Nilacakra, telah beredar dan juga bisa dipesan secara daring melalui Google Play.

Dalam jumpa pers dan diskusi buku ini, I Putu Putra Setiawan yang akrab disapa Wawan mengatakan, Buku “Bali Jadul” ini merupakan kumpulan tulisan perjalanan hidup yang ditulis tangan oleh seorang warga Bali bernama I Made Putra Suganda, yang juga merupakan ayahnya.

Kisah perjalanan hidup yang ditulis tangan dibuat selama kurun waktu pandemi Covid-19 atau Corona mulai terasa di Bali sejak bulan Maret 2020 hingga selesai ditulis pada Juni 2020.

“Kumpulan tulisan tangan sejarah perjalanan hidup I Made Putra Suganda ini, kemudian saya susun menjadi sebuah buku berjudul “Bali Jadul”,” ujar Setiawan.

Menurutnya, I Made Putra Suganda bukanlah seorang tokoh, figur publik, pejabat atau orang terkenal di Bali. Ia hanyalah orang atau masyarakat biasa yang kebetulan masih mempunyai ingatan tentang masa lalu dan menuliskan memori masa lalunya dalam tulisan.

“Saya tertarik untuk menulisnya karena selama pandemi saya tidak bisa leluasa bepergian, waktu lebih banyak di rumah. Kebetulan orang tua saya mempunyai data dan ingatan yang cukup tentang cerita-cerita masa lalu Bali. Jadi ini awal untuk buku-buku tentang “Bali Jadul” selanjutnya, yang akan bersumber dari warga Bali lainnya,” jelasnya.

Buku ini menceritakan perjalanan hidup I Made Putra Suganda dimulai di tahun 1950-an saat ia kanak-kanak dan ikut orang tuanya yang bertugas sebagai guru di Kabupaten Jembrana Bali saat itu.

Potret kondisi zaman saat itu di Jembrana digambarkan dalam tulisan tangan Suganda. Selain kondisi di Jembrana zaman dulu, Made Suganda juga menuliskan potret suasana Bangli di tahun 1950-an saat ia dan keluarganya pindah ke Kota Bangli karena ayahnya yang guru pindah tugas.

Buku ini juga menceritakan tentang beberapa peristiwa yang terjadi di Bali zaman dulu seperti pengalaman melihat langsung sosok Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno yang sering datang ke Bali, Peristiwa G30S/PKI dan pembunuhan massal yang menyertainya, hingga menjadi saksi mata peristiwa letusan Gunung Agung Karangasem Bali tahun 1963.

Wajah dunia pendidikan zaman dulu juga tak luput dari ingatan Made Suganda, mulai wajah dunia pendidikan di Bali tahun 1950 an hingga 1970 an. Ia juga menulis potret kondisi sosial ekonomi masyarakat Bali jaman dulu, moda transportasi Bali jaman dulu, hingga perkembangan Bali menjadi daerah tujuan pariwisata terkemuka di dunia.

Membaca buku “Bali Jadul” ini, kita seolah-olah diajak untuk memasuki “mesin waktu” kembali ke Bali pada zaman dulu. Dalam buku ini pembaca akan menjadi tahu bagaimana kondisi alam Bali jaman dulu yang sebagian besar wilayahnya masih alami dan asri. Kita menjadi tahu bagaimana potret wajah kota-kota di Bali seperti Kota Singaraja, Karangasem, Klungkung, Badung, hingga Denpasar pada zaman dulu yang tentu sangat berbeda dengan kondisi “zaman now” atau saat ini.

“Buku ini memang masih jauh dari kata sempurna. Namun buku ini diharapkan akan menjadi awal dari munculnya buku-buku lain tentang sejarah Bali zaman dulu yang dibuat oleh masyarakat. Sehingga generasi penerus akan tetap mengetahui dengan baik sejarah Bali yang kita cintai bersama. Mari kita cintai sejarah, karena lewat sejarah kita bisa belajar tentang banyak hal,” ujar Setiawan.

“Ini adalah buku sejarah pertama saya. Saya mengajak pembaca menengok sejumlah intisari di masa lalu. Petuah orang tua tentang kejujuran, tentang kerja keras dan banyak peristiwa masa lampau,” pungkasnya.

IB Arya Lawa Manuaba, alias Gus Arya dari penerbit Nilacakra menyebut buku ini sangat layak dibaca, utamanya generasi muda. Pesan di dalam buku ini menurutnya sangat layak diimplementasikan saat ini.

“Perspektif dan peristiwa-peristiwa yang disampaikan dalam buku ini menjadi kepingan-kepingan bersejarah yang penting sekali,” pungkasnya. (BBN/501/rls)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button