Bursa

Wall Street ditutup bervariasi, Indeks Dow Jones dan S&P lanjut jatuh

New York (BBN INDONESIA) – ​Wall Street bervariasi dengan Dow Jones dan S&P 500 mengakhiri sesi berombak lebih rendah pada Rabu (Kamis pagi WIB) setelah Federal Reserve (Fed) meyakinkan investor atas dukungannya untuk ekonomi tetapi memproyeksikan penurunan 6,5 persen dalam produk domestik bruto tahun ini.

Nasdaq, dibantu oleh keuntungan di Microsoft dan Apple, berhasil mempertahankan sebagian besar keuntungannya dan mencatat rekor penutupan tertinggi untuk sesi ketiga berturut-turut.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 282,31 poin atau 1,04 persen, menjadi ditutup di 26.989,99 poin, menyusul penurunan 300 poin di sesi sebelumnya. Indeks S&P 500 turun 17,04 poin atau 0,53 persen, menjadi berakhir pada 3.190,14 poin.

Namun Indeks Nasdaq reli ke rekor baru, ditutup di atas angka 10.000 untuk pertama kalinya, didorong oleh kenaikan kuat dalam saham-saham teknologi. Indeks naik 66,59 poin atau 0,67 persen menjadi berakhir pada 10.020,35 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan sektor energi jatuh 4,17 persen, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor teknologi naik 1,11 persen, satu-satunya pencetak keuntungan di antara kelompok.

Dalam pernyataan kebijakan terbarunya, The Fed juga memperkirakan tingkat pengangguran 9,3 persen pada akhir tahun dan para pejabat melihat tingkat suku bunga utama atau suku bunga dana federal, tetap mendekati nol hingga setidaknya 2022.

Indeks S&P 500 dan Dow Jones keduanya bergerak antara keuntungan dan kerugian setelah pernyataan tersebut, yang termasuk proyeksi pertama Fed tentang ekonomi sejak wabah Virus Corona dan mengikuti komentar dari Ketua Fed Jerome Powell.

“Proyeksi untuk PDB dan pengangguran akan membaik perlahan dari sini, tetapi masih butuh waktu untuk kembali,” kata Manajer Portofolio Senior Globalt, Tom Martin, di Atlanta.

Indeks saham bank S&P yang cenderung mendapat manfaat dari kenaikan suku bunga, turun 5,8 persen dalam penurunan persentase harian terbesar sejak 15 April, dan indeks keuangan S&P 500 adalah penekan terbesar pada indeks acuan.

Janji The Fed untuk menjaga kebijakan moneter longgar sampai ekonomi AS kembali ke jalurnya, mengulangi janji yang dibuat di awal tanggapan bank sentral terhadap pandemi Virus Corona.

“Saya melihat pergerakan material di bank ketika (Powell) berbicara tentang pengendalian kurva imbal hasil. Itu bukan sesuatu yang ingin dilihat bank. Apa yang dilakukannya adalah menurunkan suku bunga,” kata Kepala Strategi Pasar Prudential Financial, Quincy Krosby, di Newark, New Jersey.

Saham Eli Lilly and Co naik terlambat, berakhir naik 1,3 persen, setelah kepala ilmuwannya mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan bisa memiliki obat yang dirancang khusus untuk mengobati COVID-19 yang diizinkan untuk digunakan pada awal September jika semuanya berjalan baik dengan salah satu dari dua terapi antibodi yang diuji.

Volume transaksi di bursa Amerika Serikat mencapai 14,13 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 12,69 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

 


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close