Tuesday, 27-07-2021
Bali

Usai Vaksinasi AstraZeneca Alami Demam Tinggi, dr. Ayu Akui Banyak Terima Keluhan

Ket. Foto: Consita Maria Ina Goran (kiri)  bersama pamannya Rahman Sabon Nama (kanan) di halaman RSUP Sanglah Denpasar sebelum pulang ke rumah, Minggu (09/04/2021).

Denpasar (BBN INDONESIA) – Keengganan masyarakat mengikuti vaksinasi guna melindungi diri dari ancaman Covid 19 ternyata ada benarnya. Masalahnya beberapa jenis vaksin yang dipakai di Indonesia tidak semua cocok dengan respon tubuh seseorang, bahkan bisa berakibat fatal. Itulah yang dialami oleh Consita Maria Ina Goran (27) yang beralamat di Jl. Pandu No. 61 Dalung, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Gadis asal Desa Karing Lamalouk, Adonara Timur, Flores Timur itu mengalami gejala tidak enak badan setelah menerima vaksin AstraZeneca. Hal itulah yang membuat pamannya, Rahman Sabon Nama, berang dan angkat bicara.

“Kasus Consita ini perlu diangkat supaya menjadi pembelajaran bagi para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, dokter penanggungjawab dan pihak rumah sakit. Sebab, terlihat tidak ada koneksitas antara pasien akibat efek vaksin dengan ketiga pemangku kepentingan tersebut. Akibatnya, pasien seperti berjuang sendiri untuk menyelamatkan nyawanya,” kata Rahman Sabon Nama saat menyampaikan keterangan pers di Denpasar, Minggu (09/05/2021) sore.

Sesuai kartu vaksinasi Covid-19 yang dia peroleh, Consita Maria Ina Goran mengikuti vaksinasi di Desa Dalung yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, Sabtu (8/5/2021) pukul 09.47 Wita dengan nama vaksinnya AstraZeneca. Sesuai jadwal, vaksin kedua akan diberikan pada 3 Juli 2021. “Apabila terdapat gejala pasca dilakukan vaksinasi dapat mengubungi dr. Ni Luh Ketut Ayu Ratnawati, nomor telepon 08133720****”. Itu catatan di bagian bawah kartu vaksinasi tersebut.

“Tetapi apa yang terjadi? Keponakan saya, nyaris mengalami fase yang mengkhawatirkan setelah menerima vaksin AstraZeneca tersebut. Dokter yang namanya tercantum dalam kartu vaksin tak punya tanggungjawab moral sama sekali. Dokter itu tak merespon pesan WA tentang keluhan pasien sampai detik ini,” ujar Rahman.

Rahman menjelaskan, usai divaksin, Consita Maria kembali ke kostnya untuk istriahat, sekitar pukul 15.00 Wita baru dia terbangun. Ibu guru di DBB School ini kaget, tubuhnya panas tinggi dan terasa capek sekali. “Kok tubuh saya panas sekali, pegal-pegal, rasa cemas, ketakutan, mual dan muntah-muntah. Pikiran saya, ini pasti efek vaksin tadi. Saya mau kontak dokter tapi tidak bisa. Sebelum dijemput Lega dan Ika, 3 kali saya muntah di kost,” beber Consita, seperti dikisahkan Rahman.

Saat itu dia hanya bisa pasrah dan menangis di kamarnya. Masalahnya paket WA dan pulsa telepon habis hari itu. Untung ada facebook. Melalui inbox, Consita menginformasikan kondisi kesehatannya kepada seorang keluarga, Eba Lega dan minta segera datang menjemput. Tak lama kemudian Lega dan istrinya, Ika, datang menjemput Consita, dibawa ke kost mereka.

“Semalam kondisinya makin memburuk. Sekitar jam 11 malam Lega beberapa kali kirim pesan WA kepada dokter dalam surat vaksin itu tapi tak ada respon. Akhirnya Minggu pagi sekitar jam 05.00 Wita Consita dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah, barulah saya dikabarkan bahwa Consita masuk rumah sakit, kondisinya kritis, karena efek vaksin,” ucap Rahman.

Setelah mendapat perawatan intensif, sekitar pukul 10.30 Wita Consita Maria Ina Goran diizinkan pulang. Anehnya, biaya rumah sakit senilai Rp305.200 itu malah dibebankan kepada Consita. Meski sudah diberi tahu pasien ini korban vaksin, sambil memperlihatkan kartu vaksin tadi, pihak rumah sakit tetap menganggapnya sebagai pasien umum.

Menurut Rahman, perlakuan pihak rumah sakit ini tidak benar. Walupun nilainya kecil, tapi harus diusut. Sebab, vaksinasi ini program nasional dan menggunakan anggaran negara. “Jadi kalau ada efek setelah seseorang menerima vaksin, itu menjadi tangungjawab negara, bukan tanggung jawab pasien secara pribadi, ini harus diusut supaya tidak menjadi kebiasaan,” tegas Rahman Sabon Nama.

Menanggapi keluhan tersebut awak media menghubungi dokter Ni Luh Ketut Ayu Ratnawati sebagai pihak yang tercantum di dalam kartu vaksinasi menjadi narahubung jika terjadi gejala atau keluhan pasca vaksinasi. Ia mengatakan, timnya sedang turun ke lapangan seputar wilayah Kuta Utara untuk melacak, menelusuri siapa pasien yang mengalami keluhan pasca vaksinasi, dan mencari kebenarannya.

“Di kartu vaksinasi nika (itu) ada memang nama, kita sekarang punya 21 P-Care. P-Care Covid-19 nika aplikasi BPJS (Kesehatan) yang kita pakai memasukkan data yang divaksin. Setiap 21 P-Care ada 1 nama penanggungjawab. Dan untuk P-Care 1 memang tyang (saya) penanggungjawabnya,” ungkapnya melalui sambungan telepon, Senin (10/5/2021).

Terkait tuduhan tidak adanya tanggapan saat pasien menghubungi dokter Ni Luh Ketut Ayu Ratnawati untuk menanyakan gejala dan keluhan pasca vaksinasi, ia menegaskan hal itu bukan sebagai sebuah kesengajaan namun karena terlalu banyaknya pesan dan telpon yang masuk dalam sehari di sela-sela kesibukannya.

“Dalam sehari bisa 50 pesan dan telepon yang masuk. Tidak semua bisa saya layani satu-persatu. Mungkin ada yang terlewatkan pas tyang rapat. Jadi bisa pesan-pesan yang tertanam oleh wa-wa (whatsapp) lain,” tandasnya.

Lebih lanjut ia membenarkan keluhan terhadap dampak lanjutan pasca vaksinasi AstraZeneca produk vaksin asal Inggris ini tidaklah sedikit. “Banyak sekali pasien yang mengeluhkan Astrazeneca ini,” tandas dokter Ayu.

Dikutip dari beberapa sumber, program vaksinasi pemerintah telah menggunakan sejumlah jenis vaksin yang ada di dunia, termasuk salah satunya AstraZeneca. Namun penggunaan vaksin itu juga diikuti sejumlah efek samping mulai dari yang umum hingga jarang terjadi.

Salah satu yang jarang terjadi adalah dugaan pembekuan darah pada sejumlah orang yang menerima vaksin ini. Kejadian tersebut bahkan membuat vaksin AstraZeneca sempat ditunda penggunaannya pada beberapa negara di dunia.

Hingga saat ini, BPOM belum menemukan kasus pembekuaan darah pada penerima vaksin AstraZeneca. Namun lembaga ini sudah meminta agar tenaga kesehatan melakukan screening terhadap individu penerima vaksin yang berisiko terdampak pembekuan darah setelah divaksin.

“Sekarang kita tambahkan ke warning ya dan juga di dalam statement factsheet, factsheet adalah informasi pada tenaga kesehatan yang akan menggunakan AstraZeneca dikaitkan dengan risiko kejadian trombosis tersebut,” ujar Kepala BPOM Penny Lukito dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Sementara itu, pada efek samping pada kategori umum penerima bisa merasakan nyeri saat ditekan atau memar pada tempat suntikan. Selain juga dapat merasakan kelelahan hingga demam.

Laman Gov.UK menyebutkan dalam uji klinis dengan vaksin, sebagian besar efek samping ringan hingga sedang dapat sembuh dalam beberapa hari. Namun ada juga yang baru pulih satu minggu setelah vaksinasi diberikan.

Berikut ini sejumlah efek samping yang mungkin dialami penerima vaksin AstraZeneca, dikutip dari laman Gov.UK, Rabu (5/5/2021) seperti dilansir CNBC Indonesia.

Kategori Sangat Umum (Pada 1 dari 10 orang):

• nyeri saat ditekan, nyeri, hangat, gatal atau memar pada bekas suntikan.

• merasa tidak sehat

• lelah

• menggigil atau merasa demam

• sakit kepala

• merasa sakit (mual)

• nyeri sendi atau otot

Kategori Umum (Pada 1 dari 10 orang)

• bengkak, kemerahan atau benjolan di bekas suntikan

• demam

• sakit (muntah) atau diare
gejala mirip flu, seperti demam tinggi, sakit tenggorokan, pilek, batuk, dan menggigil.

Kategori Jarang (Pada 1 dari 100 orang)

• Merasa pusing

• nafsu makan menurun

• sakit perut

• kelenjar getah bening membesar

• keringat berlebihan

• gatal di kulit atau timbul ruam

Kategori Tidak Diketahui (Tidak dapat diperkirakan dari data yang tersedia)

• reaksi alergi parah (anafilaksis)

Selain itu juga terdapat efek samping yang dilaporkan dalam uji coba ada juga laporan sangat jarang yang dihubungkan dengan peradangan sistem saraf. Ini menyebabkan mati rasa, kesemutan, dan atau kehilangan rasa. Namun belum dipastikan berkaitan dengan vaksinasi. (BBN/001/CNBC/rls)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button