Friday, 18-06-2021
Bali

‘Tri Hita Karana’ dalam Pesona Wisata Desa Adat Kelecung

Nuansa Pantai Kelecung, Desa Tegal Mengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan (ist)

Tabanan (BBN INDONESIA) – Wisata Desa Adat Kelecung belakangan mulai diminati wisatawan ternyata memiliki pijakan pengembangan pariwisata dengan konsep Tri Hita Karana. Sebuah konsep kearifan lokal Bali didasari atas prinsip keharmonisan.

“Kita bersyukur dianugerahi alam yang indah. Warga adat yang ramah, memiliki kultur budaya yang sangat unik dan cantik. Semuanya ini warisan leluhur yang menyatu dalam konsep Tri Hita Karana. Tinggal kita punya komitmen melestarikan itu,” terang Ni Made Ariani selaku Ketua Sahaja Sawah Foundation di Desa Adat Kelecung, Desa Tegal Mengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan Bali, Senin (7/6).

Ni Made Ariani yang juga pemilik Villa Sahaja Sawah ini mengaku, untuk memberi edukasi konsep adi luhung Tri Hita Karana dalam implementasi pariwisata dikatakan tidak mudah. Dibutuhkan kerjasama semua pihak secara berkesinambungan. Tidak saja dari warga adat tapi juga keseriusan pemerintah mendukung program pariwisata.

“Bagaimana hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dengan alam. Mudah-mudahan niki (ini) di Desa Tegal Mengkeb khususnya di Kelecung keasrian alamnya tetap terjaga. Itu salah satu selling point nya kita. Karena masih sepi, masih asri, masih bersih, itu yang kita jaga dan masih hijau. Itu yang dicari dari tamu-tamu kita yang rata-rata dari Eropa”

“Sunset-nya luar biasa, iya. Karena boleh dibilang dari jalur pantai sekitar sini, kita punya spot yang paling bagus. Karena ada tebing yang menonjol itu, dipadukan dengan sunset yang bulat dan alam sekitarnya yang masih hijau. Apalagi waktu air laut sedang surut, itu bagus sekali karena kelihatan karang-karangnya,” papar Aryani

Komitmen pihaknya menggandeng Desa Adat Kelecung melalui yayasan menjaga alam sebagai inspirasi di desanya. Didukung dari suaminya sorang bule kini sudah menjadi Hindu. Tidak saja bergerak menjaga lingkungan, yayasan dikelola Ariani juga berupaya menjaga tempat ibadah seperti perbaikan pura, infrastruktur jalan, penghijauan dan sanggar anak. Sedangkan hubungan dengan kemanusiaan pihaknya selalu membantu warga adat dalam kekurangan. Bahkan yayasan ini melakukan kegiatan bedah rumah.

“Satu contoh kecil bagaimana kita bisa tetap menjaga keberlangsungan sawah sementara air kurang. Tentu perlu dicarikan solusi bersama dengan pemerintah. Begitu juga kita selalu bilang alam kita bersih dan alami sementara sepanjang jalan dan pantai sampah berserakan. Untuk itu perlu upaya kesadaran bersama,” singgungnya.

 

Ariani mengatakan dari yayasan sendiri punya staf khusus mengurus kebersihan pantai Kelecung. “Untuk penataan ke depan, tentu harus kerjasama dengan semua pihak, dengan desa adat dan masyarakat. Tidak bisa kami sendiri. Kami berharap area kita ini tetap dijaga kelestariannya, tetap bersih terutama kan kita punya masalah terkait sampah,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Bandesa Adat Pakraman Kelecung I Ketut Siada yang akrab disapa Guru Kartika bahwa desa adat tetap akan mempertahankan alam yang ada. Terkait untuk aturan pembangunan diungkap sekarang ini desa adat sedang mengemas pararem (aturan adat). Ada juga disinggung aturan bagi investor yang akan masuk. Tetapi dikatakan bahwa aturan ini masih dalam proses dan belum disahkan.

“Salah satunya nanti setiap ada investor masuk akan diataur apa-apa saja yang boleh dilakukan termasuk dalam mendirikan bangunan, berapa tinggi bangunan yang diperbolehkan, spesifikasi bangunan dan lain sebagainya. Jadi mereka bisa masuk asalkan tetap bisa bekerjasama. Intinya desa biar tetap dihijaukan, tetap asri dan alami untuk anak cucu kami ke depan,” pungkasnya Bandesa Adat Kelecung.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button