Friday, 18-06-2021
Bali

Elemen Hindu Bali Grudug Pasraman Sri Sri Jagannatha Gourangga

Ket. Foto: Sejumlah elemen dan Ormas Hindu Bali memasang spanduk di pintu gerbang Pasraman Sri Sri Jagannatha Gourangga di Jl. Tukad Balian No.108 X, Sidakarya, Denpasar, Jumat (7/5/2021) siang. (ist/lenteraesai)

Denpasar (BBN INDONESIA) – Dukungan untuk Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali yang mendapatkan somasi dari Majelis Ketahanan Krama Bali Nusantara (MKKBN) datang dari Sandhi Murti bersama elemen dan organisasi massa (ormas) peduli Adat Bali dan Agama Hindu lainnya yang tergabung di dalam Forum Komunikasi Taksu Bali dan Forum Koordinasi Hindu Bali (FKHB). Mereka menyatakan sikap dan menyuarakan dukungan sekaligus bergerak menuju pasraman atau ashram yang selama ini digunakan sebagai tempat beraktivitas oleh pengikut Hare Krishna yang berada di wawidangan Desa Adat Sidakarya, Denpasar Selatan.

Langkah somasi dilakukan atas dasar kekecewaan MKKBN terhadap implementasi Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 106/PHDI-Bali/XII/2020 dan Nomor 07/SK/MDA-Prov Bali/XII/2020 tentang Pembatasan Kegiatan Pengembangan Ajaran Sampradaya Non Dresta Bali yang dikeluarkan oleh MDA dan PHDI Bali belum lama ini. SKB ini pula yang menjadi salah satu alasan dari elemen Hindu dan Desa Adat Kesiman menutup Ashram Krishna Balaram di Padanggalak, Minggu (18/4/2021) lalu.

Sumber foto: FB

Menyikapi ancaman MKKBN akan memperdatakan dan memidanakan lembaga pengayom adat Bali dan umat Hindu itu, sejumlah organisasi bernafaskan Hindu bersama puluhan anggota Sandhi Murti bergerak menuju Pasraman Sri Sri Jagannatha Gourangga yang terletak di Jalan Tukad Balian Denpasar dengan konvoi kendaraan dari Markas Sandhi Murti di Jalan Tukad Citarum Denpasar pada Jumat (7/5/2021) siang.

Kontan saja saat tiba di depan pasraman itu, mereka langsung turun dari kendaraan untuk berorasi dan meneriakkan yal-yel yang bernada pembelaan terhadap adat dan budaya Bali, serta siap ‘puputan’ untuk menjaga ketenteraman dan kedamaian Gumi Bali.

Sumber foto: FB

Puluhan orang yang berbusana adat madya diiringi tetabuhan baleganjur ini kemudian memasang spanduk pada gerbang ashram bertuliskan: “Kami dengan segenap jiwa dan raga mendukung SKB PHDI & MDA. Melarang & Menolak Sampradaya yang Tidak Sesuai Dengan Dresta Bali dan Siap Mendukung Desa Adat Menutup Ashram Sampradaya Non Dresta Bali”.

“Jangan coba-coba melepas spanduk ini, itu sama dengan melawan kami!,” teriak sejumlah orang diiringi kepalan tangan.

Sementara dari bagian dalam pasraman, terlihat seorang pria yang malah sibuk mengabadikan orasi yang tengah berlangsung dengan menggunakan handphone, seolah memang sudah siap dengan kedatangan puluhan awak organisasi dan anggota Sandhi Murti itu.

Setelah pemasangan spanduk di pintu masuk pasraman usai dikerjakan, puluhan orang itu berbalik dengan tertib dengan menyusuri Jalan Tukad Balian. Sebagian ada yang membubarkan diri, sebagian lagi memutuskan kembali lagi ke Markas Sandhi Murti.

Sumber foto: FB

Di sisi lain kepada media, Pinisepuh Perguruan Sandhi Murti I Gusti Ngurah Harta menekankan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjaga tradisi dan budaya Bali agar tidak dirongrong kelompok sampradaya asing.

“Kita hari ini memperkuat SKB, inilah yang kita dukung dan pertahanankan. Makanya kita berjuang mati-matian untuk itu. Dan syukur sudah dilakukan dengan tertib, cerdas dan tidak anarkis oleh rekan-rekan kami,” ujar pria yang kerap disapa Turah Harta ini menandaskan seperti dikutip dari lenteraesai.

Selanjutnya, imbuh Turah, akan dilihat sejauhmana tanggapan dari para pendukung sampradaya ini. “Kita lihat reaksi mereka. Kalau mereka lakukan yang tidak bagus, kita lakukan yang lebih keras dari mereka. Target dari tujuan ini adalah menutup Hare Krishna dan sampradaya asing lainnya, agar tidak berkegiatan di Gumi Bali,” tegasnya

Ket. Foto: Pinisepuh Sandhi Murti Ngurah Harta (kiri) saat dikunjungi Pendiri Banser NU yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal dan Patriot Garuda Nusantara Nuril Arifin Husein‎ atau Gus Nuril (kanan) (ist/sm/bb)

Pelarangan terhadap sampradaya asing melakukan praktik di Bali, menurut tokoh spiritual ini antara lain dimaksudkan agar mereka tidak lagi mengejek dan menjelek-jelekkan Agama Hindu dan tradisi yang tumbuh dan berkembang di Gumi Bali.

“Mereka selama ini menyebut Bali sudah buruk. Kita anggap mereka itu HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) di Agama Islam. Nah, sampradaya ini HTI-nya Hindu. Kita tidak ingin ada seperti itu di Bali. Kita ingin tradisi Nusantara terjaga dengan baik, di manapun itu berada,” pungkas Turah Harta yang getol membela kepentingan budaya Bali dan Agama Hindu ini.

Sebelumnya Ketua Forum Koordinasi Hindu Bali (FKHB) Wayan Bagiarta Negara, mengatakan pihaknya menggelar deklarasi mendukung SKB PHDI dan MDA Bali yang melarang dan menolak Sampradaya yang tidak sesuai dengan Dresta Bali bertempat di Sekretariat Perguruan Sandhi Murti Jalan Tukad Citarum Denpasar.

Sementara, salah seorang warga ashram yang tak mau menyebutkan namanya saat dimintai keterangan menyatakan tak memiliki otoritas terkait hal itu. Bahkan, ia mengungkapkan kekhawatirannya, agar tidak salah dalam menyampaikan keterangannya.Foto: Tangkapan layar video (Ace Wiguna)

“Ampura tyang (saya) bukan orang yang punya otoritas di sini. Biar tyang ga salah berkomunikasi atau penyampaian yang nanti malah mengakibatkan hal yang buruk. Ampura tyang disuruh masuk oleh kakak tyang nggih,” ujarnya buru-buru sembari masuk ke dalam pasraman dan menutup pintu gerbang.

Di depan pasraman ini berdiri baliho yang bertuliskan Pasraman ISKCON (International Society for Krishna Consciousness), yang pendirinya Acharya His Divine Grace A.C.Bhaktivedanta Swami Prabhupada.

Patut diketahui pula seperti tercantum dalam papan namanya, Pasraman ISKCON ini, telah mengantongi izin dari Kementrian Hukum dan HAM AHU-0008567.AH.01.07.2015 dan juga terdaftar di Kementrian Agama : 65/DJ VI/BA 00/07/2016 serta PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Pusat bernomor 413 /parisada P/IV/2016.

Foto: Ace Wiguna

Untuk diketahui berbagai elemen dan ormas peduli tradisi, dresta, budaya Bali dan Agama Hindu menganggap Kelompok Sampradaya Hare Krishna, Sai Baba dan Sampradaya non dresta Bali telah secara terstruktur, sistematif, massif berupaya menghancurkan budaya Hindu Bali melalui ajaran mereka.

Atas landasan tersebut dan berdasarkan SKB MDA dan PHDI Bali Ashram Krishna Balaram di Padanggalak ditutup Desa Adat Kesiman yang dipimpin oleh Bandesa Adat Jero Mangku Ketut Wisna. Kemudian disusul dengan penutupan ashram di Desa Alas Angker oleh Bandesa Adat Bale Agung Tenaon, I Ketut Sukrawa, yang disaksikan oleh perwakilan Forum Koordinasi Hindu Bali, Cakrawayu dan perwakilan Forum Taksu Bali, Amukti Palapa Nusantara (APN) disusul dengan Deklarasi Bendesa Adat  se-Jembrana, se-kecamatan Grokgak, dan Klungkung yang dikoordinir oleh Forum Taksu Bali dan disusul dengan Deklarasi Bandesa se-kecamatan Seririt untuk menerapkan SKB tersebut di wawidangan desa adat masing-masing. (BBN/001/db/LE/tim)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button