Bali

Sinkretisme, Refleksi Kecerdasan Leluhur Bali Bersenyawa Nilai Baru

Ket Foto: AA Ngurah Panji Astika (kiri) dan dr. I Gusti Ngurah Eka Santhosa (kanan) yang secara kebetulan bersua di Puri Anom, Tabanan Minggu (5/7).

Tabanan (BBN INDONESIA) – Sungguh tak dinyana sebelumnya, dua putra hebat Tabanan bersua dalam satu kesempatan dengan kostum adat yang padupadan. Sama-sama menggunakan destar putih, safari putih lengan panjang, saput endek berwarna dasar hijau kotak-kotak dengan lis prada di pinggirannya dan berkamben kain putih.

Mereka adalah tokoh budaya yang juga pengusaha AA Ngurah Panji Astika dan dr. I Gusti Ngurah Putera Eka Santhosa yang seorang _praktisi kedokteran terintegrasi_ . Keduanya secara tidak sengaja bertemu di Puri Anom, Tabanan bertepatan dengan Banyu Pinaruh, sehari setelah Hari Suci Saraswati, Minggu (5/7).

dr. Ngurah begitu pria berkulit putih bersih ini kerap disapa, datang bersama istrinya yang nampak anggun berkebaya nuansa hijau, usai bersembahyang di kampung sang suami tercinta di Desa Marga, Tabanan.

Sebagai tuan rumah Panji Astika menyambut tamunya dengan hangat dan ramah bersama beberapa kerabat puri. Banyak hal yang diobrolkan dalam suasana santai penuh keakraban mulai dari duduk-duduk sejenak di bantaran bale panjang hingga berlanjut di bale sakapat yang masih dalam areal bale kembar.

“Kemarin malam seorang sahabat dari Medan tiba-tiba bertanya melalui aplikasi WA, bagaimana perekonomian Bali setelah pariwisata terhenti hampir tiga bulan Pak Ngurah?,” demikian dr. Ngurah mengawali ceritanya.

Lantas ia menjawab apa adanya, bahwa di daerah Bali kondisi ekonomi melambat, masyarakat beralih ke sektor pertanian, perikanan, perkebunan dan jasa pembuatan perangkat upakara masih berjalan.

Kemudian sahabatnya yang tinggal di bagian barat Pulau Sumatera itu menanggapi, kalau sistem budaya dan agama di Bali melalui ritual upacaranya memutar ekonomi masyarakat. Buah, bunga, janur di Medan menurutnya tidak dapat memutar ekonomi semassif di Bali.

“Saya merinding. Wow ternyata sistem upakara yang dituding membuat orang Bali miskin, bahkan dianggap bersifat “rajasik’ dan oleh saudara saudara kita sendiri yang kemudian menganggap budaya luar lebih baik tidak memberi dampak kepada perekonomian disaat krisis,” ujar dr. Ngurah dengan senyum dan kumis khasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan jika dimetaforakan Gama Bali adalah “hutan” dan kita manusia adalah “singa” kemudian virus Covid-19 sebagai “pemburu” maka apa yang disampaikan Niti Shastra benar adanya.

“Singa menjaga hutan, dan hutan menjaga singa. Perselisihan diantara mereka merugikan keduanya. Hutan tanpa penjaga di rusak pemburu dan singa di hutan gundul menjadi sasaran pemburu,” urainya penuh semangat.

Saking bagusnya kearifan lokal ini dan sehari hari kita hidup di dalamnya menjadikan kesadaran kita “gelap” dalam arti tanpa cahaya, dalam sastra dikatakan kita ini seperti orang “bhuta” yang tidak mampu melihat nilai-nilai lain yang melekat dalam ritual “Gama Bali” (Hindu yang telah terakulturasi dengan budaya masyarakat Bali).

“Hal ini semakin menguatkan kita bahwa sistem pemerintahan di Bali berikut kelengkapan organisasi dari desa hingga organisasi keagamaan, haruslah dipercayakan kepada orang-orang yang memahami filosofi yadnya sebagaimana leluhur Bali zaman dulu dan berfikir secara global (think globally, act locally, red),” pungkasnya lugas.

Sementara itu Turah Panji panggilan akrab AA Panji Astika senada dengan dokter yang juga pengurus KONI Bali tersebut. Menurutnya beragama mesti dilakukan dengan ketulusan hati, kekhusukan tanpa meninggalkan unsur seni dan kegembiraan.

“Kultur kita di Bali ini sangat unik, kaya akan kreatifitas seni dan budaya. Segala pengaruh luar sejak era awal masuknya agama Hindu ke Pulau Dewata berabad-abad yang lalu telah melalui tahapan dan sinkretisme dan akulturasi budaya yang lembut dan penuh cipta karsa yang tinggi dari para Maharesi dan leluhur kita,” tuturnya sembari mempersilakan tamunya menyeruput teh beras merah minuman khas Puri Anom.

Masuknya nilai-nilai dan ajaran Hindu dari India tambahnya, telah mampu diserap dengan penuh penghormatan, kasih sayang dan kedamaian oleh tetua-tetua orang Bali yang ketika itu masih menganut paham Animisme dan Dinamisme dan beragam ritual upacara tradisional yang khas.

“Perpaduan dari keduanya yang menampilkan keindahan berbudaya dan beragama yang berwarna. Kedua nilai yang memiliki perbedaan ini akhirnya bersenyawa. Prosesnya berlangsung berabad-abad dan lahirlah Agama Hindu Bali seperti yang kita anut dan sehari-hari kita laksanakan ritual berbaur dengan adat-istiadatnya ini,” papar Turah Panji yang menyatakan dirinya menganut paham Bhairawa.

Panji Astika yang juga fasih menuturkan babad leluhur ini menandaskan sudah tidak ada gunanya lagi kita mempertentangkan antara “Gama Bali” dengan “Agama Hindu India” karena sujatinya keduanya adalah satu.

“Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangruwa. Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Kalimat bertuah ini sejak tahun 1945 ditetapkan sebagai semboyan dan simbol persatuan dan kesatuan bangsa dan NKRI pada lambang Garuda Pancasila,” tutupnya mengutip ungkapan dalam Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, pujangga besar di masa keemasan Kerajaan Majapahit abad ke-14.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close