Monday, 27-09-2021
Hukum

Sikapi Kasus Tersangka Empat Pengacara, Polisi akan Periksa Saksi Pelapor Minggu ini

Denpasar (BBN INDONESIA) – Perkembangan dugaan pengerusakan dan perampasan Toko Mayang Art Market, Legian, Kuta mulai sedikit terkuak. Penyidik Sat. Reskrim Polresta Denpasar dalam minggu ini akan segera memanggil saksi sekaligus pelapor dalam dugaan kasus perusakan dan perampasan Toko Mayang Bali Art Market, Legian, pada 7 Mei 2019 dengan tersangka empat pengacara.

Kasubbag Humas Polresta Denpasar Iptu Ketut Sukadi mengatakan, penyidik masih membuat surat panggilan terhadap saksi pelapor yakni Sony. “Besok akan dibuat surat panggilannya. Dan dalam minggu ini Sony dijadwalkan diperiksa sebagai saksi,” katanya saat dikonfirmasi media Jumat (6/8).

Sebelumnya, menyandang status tersangka sejak 2019 lalu, berkas empat pengacara hingga kini masih dalam penanganan pihak kepolisian. Penyidik Satuan Reskrim Polresta Denpasar sempat mengirim berkas tersebut ke Kejaksaan Negeri Denpasar, namun karena belum lengkap alias P-19, berkas tersebut dikembalikan.

Keempat pengacara tersebut .M. Rfn, S.H., MH., CLA, H. D Ts, S.H., M.HUM, M. AS, S.H dan Bb, S.H awalnya ditetapkan menjadi tersangka dalam dugaan kasus perusakan dan perampasan Toko Mayang Bali Art Market, Legian, Kuta, Badung pada 7 Mei 2019. “Pihak jaksa mengembalikan berkasnya pada Juni 2020. Sebab dinilai belum lengkap dan memerlukan tambahan keterangan saksi,” kata sumber petugas.

Polresta Denpasar masih dalam proses melengkapi berkas tersebut. “Masih diupayakan keterangan tambahan saksi saksi dari pihak pelapor (Sony) dan saksi ahli yang diajukan oleh tersangka, apabila ada perkembangan akan kami sampaikan berikutnya,” ucapnya.

Kasus ini berawal pada tahun 2017 lalu, pemilik toko Mayang Bali Art Market, Sony dikenalkan dua orang temannya, yaitu Rudy dan Andre kepada Feric Setiawan.

Selanjutnya terjadi transaksi pinjam meminjam dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan senilai Rp25 miliar. Namun Feric disebutkan baru mentransfer uang ke rekening atas nama Sony senilai Rp19 miliar.

“Memang kami ada kesepakatan yang ditandatangani jaminannya sertifikat ini. Tetapi baru diberikan kepada saya Rp19 miliar. Masih ada sisa Rp6 miliar. Kalau Pak Feric lunasi sisanya, saya siap dikosongkan tempat ini. Nah, ini belum dikasih lunas kok mau kosongin tempat saya, jelas saya keberatan lah. Atau mari kita sama-sama duduk bicarakan win-win solusinya bagaimana, saya siap supaya kita sama sama enak,” beber Sony pascainsiden penutupan Toko Mayang Bali Art.

Kemudian, Selasa 7 Mei 2019 pukul 14.00, sekitar 30 orang pria berbadan kekar yang bersama oknum pengacara datang ke Toko Mayang Bali mengusir para pegawai toko yang sedang bekerja dan menggembok pintu. Sebagian orang yang masuk menemui Sony, sedangkan yang lain nunggu di luar dan di seberang jalan.

Sekelompok orang itu mengaku disuruh Feric Setiawan yang meminta untuk mengosongkan tempat lantaran toko akan diambil alih. Saat diminta menunjukan surat kuasa, perwakilan tersebut tidak dapat memperlihatkannya.

Akibat kejadian itu, kedua kubu saling lapor di kepolisian. Sehari setelah kejadian, Sony melaporkan kejadian itu ke Mapolsek Kuta dengan Nomor Laporan : STPL/124/V/2019/Bali/Resta Dps/Sek Kuta, tertanggal 8 Mei 2019. Selanjutnya, laporan tersebut ditarik ke Polresta Denpasar ditangani Sat Reskrim.

Sedangkan Feric Setiawan keesokan harinya melaporkan Sony ke Mapolresta Denpasar dengan nomor laporan : DUMAS/351/V/2019/BALI/RESTA DPS. (BBN/002)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button