Friday, 18-06-2021
Bali

Selama Pandemi Pedagang Dadakan Menjamur, Omzet Pedagang Pasar Desa Anjlok

Ket. Foto: Forum Pengelola Pasar Desa di Kota Denpasar mengadu ke Wali Kota Denpasar terkait penurunan omzet pedagang pasar desa.

Denpasar (BBN INDONESIA) Dilematis, kata itu pantas dilontarkan dengan menjamurnya pedagang dadakan di pinggiran jalan di tengah pandemi Covid-19. Di sisi lain setahun belakangan, omzet pedagang pasar desa di Denpasar mengalami penurunan yang signifikan atau dapat disebut anjlok.

Pedagang dadakan ini berjualan di pinggir jalan baik bermobil maupun yang membuka lapak bongkar pasang serta ada berjualan di atas trotoar.

Dengan kondisi tersebut, Forum Pengelola Pasar Desa di Kota Denpasar pun menyampaikan aspirasi mereka ke Wali Kota Denpasar, pada Kamis 5 April 2021.

Kepada Wali Kota, Ketua Forum Pengelola Pasar Desa Kota Denpasar, Nyoman Suarta mengatakan, omzet pedagang ini terus merosot akibat pandemi dan banyaknya pedagang dadakan di pinggir jalan.

Jualan pedagang dadakan ini pun hampir sama dengan jualan pedagang di pasar desa mulai dari pisang, janur pepaya, kelapa, telur, daging hingga tisu.

Dengan banyaknya pedagang di pinggir jalan ini banyak masyarakat yang memilih berbelanja di pinggir jalan ketimbang ke pasar desa.

Bahkan beberapa pedagang di pinggir jalan ini berani menjual dagangan lebih murah daripada di pasar desa.

“Masyarakat kebanyakan memilih pedagang dadakan yang jaraknya dekat dengan mereka, sehingga yang berbelanja ke pasar desa semakin menurun. Rata-rata 90 persen pedagang yang berjualan di pasar desa adalah penduduk asli setempat dan mereka hanya bergantung di sana saja, namun karena pedagang dadakan ini penghasilan mereka semakin menurun,” katanya.

Selain itu, pedagang desa juga kena retribusi dan sewa los atau kios sehingga akan semakin mengurangi penghasilan mereka.

Sementara itu, pedagang yang berjualan di pinggir jalan tak kena apa-apa dan juga melanggar ketertiban serta berbahaya bagi pengendara, pedagang maupun pembeli.

Beberapa juga bahkan memanfaatkan trotoar untuk berjualan dan utamanya bagi pedagang daging, sehingga kebersihan dan keaehatannya kurang terjamin.

Pihaknya pun meminta agar Pemkot Denpasar membantu mereka mencari jalan keluar dari permasalahan ini.

Bahkan pihaknya menawarkan solusi dan mengaku siap menampung pedagang dadakan di pinggir jalan tersebut jika akan dibawa ke pasar-pasar.

“Ada pasar yang siap menampung 30 pedagang lagi, belum lagi pasar pasar lainnya termasuk pasar di bawah naungan Perumda Pasar. Jika mereka mau, kami siap menampung mereka,” ujar Suarta

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara akan segera menindaklanjutinya.

Pihaknya akan meminta OPD terkait melakukan pendataan terhadap pedagang dadakan yang berjualan di pinggir jalan.

“Kami akan meminta Dinas Perhubungan, Satpol PP, serta Bagian Hukum untuk melakukan pendataan,” ucap Jayanegara.

Pihaknya mengaku tidak bisa melarang begitu saja mereka berjualan di pinggir jalan, namun juga harus mencarikan solusi.

“Kami tidak melarang begitu saja mereka berjualan, di sisi lain kami juga tidak bisa membiarkan kondisi ini terus berlanjut karena disamping melanggar juga berbahaya,” katanya.

Setelah melakukan pendataan, pihaknya akan mengarahkan pedagang-pedagang dadakan tersebut ke pasar-pasar desa maupun pasar yang dikelola Perumda Pasar.

Sehingga dengan solusi tersebut, akan tercipta ketertiban dan tidak menimbulkan kecemburuan antara pedagang pasar dengan pedagang dadakan.

“Jika nanti setelah dilakukan pendataan dan diarahkan berjualan ke dalam areal pasar, ternyata masih ada yang membandel berjualan di pinggir jalan terpaksa akan ditertibkan,” pungkasnya. (BBN/001/hms/dps)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button