Jawa Timur

Piodalan Pertama Candi, Panji Astika Berikan Pencerahan Spiritual

Banyuwangi (BBN INDONESIA) – Tokoh Tabanan AA Ngurah Panji Astika didaulat oleh semeton Hindu Jawa menyampaikan pencerahan spiritual di hadapan umat Hindu Jawa saat menghadiri Upacara Pamelaspasan, Piodalan Pertama dan persembahyangan bersama di Candi Puro Anom Purwo Kencono. Candi yang sudah mendapatkan izin dari Kementrian Agama RI sebagai tempat ibadah atau persembahyangan untuk umat Hindu ini berlokasi di Dusun Pondok Asem, Desa Kedungsari, Kecamatan Tegal Dlimo, Alas Purwo, Kab. Banyuwangi Jawa Timur, Purnama Karo, Senin (3/8/2020).

“Alasan membuat candi ini, karena awalnya kami ingin membuat Pura. Saya sampaikan bahwa saya ini mencintai budaya. Di Pulau Jawa, budaya yang terkenal adalah candi, sehingga kami sepakat untuk membuatnya. Pura ini dipersembahkan untuk Dang Hyang Tanah Jawi yang merupakan penguasa tanah Jawi yang disimbulkan sebagai Sang Hyang Ismoyo, atau dikenal juga sebagai Sang Hyang Semar,” ucap Panji Astika yang menyumbangkan 15 are tanah miliknya untuk bangunan candi.

Orang Bali menurutnya juga percaya bahwa Sang Hyang Ismoyo pernah berwujud sebagai Sabda Palon Nayo Genggong yang berjanji 500 tahun lalu, akan datang kembali ke Bumi Nuswantoro (Nusantara). Diharapkan dari adanya pura ini, akan kembali berjayanya agama budi yang mengutamakan hati nurani, kebajikan, dan kedamaian diatas segalanya (Agama Hindu).

“Seperti halnya cerita Yudisthira yang melakukan perjalanan ke surga, namun ketika sesampainya di surga, ia tidak melihat saudara-saudaranya, melainkan yang dilihat adalah orang-orang jahat. Karena hal tersebut, Yudisthira mengatakan tidak mau masuk ke surga, karena disana yang dilihatnya adalah orang jahat, sedangkan saudara-saudaranya yang baik justru ada di neraka. Jadi intinya surga dan neraka bukanlah yang utama, melainkan kebenaran yang ada diatas segalanya,” paparnya di hadapan pemedek dan pemangku candi yang asli Jawa.

“Surga bukan tujuan utama, melainkan Moksartham Jagaditha. Kami menempatkan Sang Hyang Semar atau Sabda Palon sebagai candi utama, lalu ada juga Candi Dewi Sri dan Candi Dewi Laksmi. Menurut saya, pura ini adalah suatu keajaiban, karena walaupun tidak mendapatkan bantuan dana, namun dibangun atas dasar keyakinan yang tulus ikhlas oleh masyarakat sehingga pura ini dapat berdiri kokoh seperti sekarang ini,” tutur pria yang akrab disapa Turah Panji.

Di akhir sambutannya ia menandaskan bahwa candi ini sudah memperoleh izin resmi dari Departemen Agama sebagai tempat bersembahyang. Ini menjadi prima dan berharap bahwa semua umat Hindu khususnya yang ada di Pondok Asem, kembali mengutamakan budi diatas segalanya. “Yang artinya dengan pedoman Tri Kaya Parisudha, yakni berkata yang baik, berpikir yang baik dan berbuat yang baik, sudah cukup untuk menciptakan kedamaian di dunia,” pungkas Panji Astika.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close