Bali

Dampak Covid-19 Penjualan Anjlok, Petani dan Pedagang Menderita

Tabanan (BBN INDONESIA) – Pandemi global coronavirus (Covid-19) yang hingga saat ini masih merebak selain menimbulkan permasalahan kesehatan dan lingkungan juga telah menelan korban jiwa. Dampak lain yang lebih dahsyat adalah pada seluruh sektor dan sumber kehidupan di masyarakat. Pengaruhnya terlihat jelas mulai dari sisi sosial, budaya dan ekonomi dari usaha kecil hingga besar yang banyak mem-PHK karyawannya dan menyebabkan kerugian luar biasa.

Salah satu contohnya adalah nasib petani Subamia Kelong, Subamia, Tabanan I Gusti Agung Purwa Jana yang ditemui di sawah ketika membersihkan saluran irigasi. Ia mengeluhkan tingginya biaya produksi pertanian. Dana yang mesti dikeluarkannya untuk mengolah 40 are lahan sawahnya tak sebanding dengan hasil panennya.

Memang hama wereng atau tungro sementara ini tidak mengganggu tapi biaya-biaya mulai dari pembukaan kembali lahan 40 are membuatnya merana. Kami mesti ngabas, beli bensin 15 liter untuk mesin potong. Seorang buruh dalam ngabas 500 ribu ditambah sewa traktor 800 ribu.
Setelah itu lanjut ke persemaian bibit dengan ongkos tanam Rp. 16 ribu per are untuk tukang tandu,” keluh ayah dari dua orang putera ini.

Ia menceritakan biaya tersebut belum termasuk pembelian pupuk senilai Rp. 350 ribu. Biaya pemeliharaan ngabas, mejukut dengan ongkos buruh Rp. 900 ribu selama 2 hari.

“Saat panen sudah ada pihak yang majegin dan saya hanya terima Rp. 250 ribu per arenya. Jadi totalnya kalau hasil padi bagus saya peroleh 10 juta dipotong ongkos produksi. Paling saya dapat cuman Rp. 3,5 juta saja. Jadi saya pasrah saja. Sungguh tak sepadan dengan jerih payah petani yang berkutat dengan lumpur selama 3 bulan,” tuturnya sambil menyeka keringat di dahinya.

Sebenarnya pihaknya sudah bosan memohon dan meminta bantuan kepada pemerintah karena selalu sia-sia.

Saya harap pemerintah serius membantu petani terutama dalam pengadaan pupuk gratis dan bantuan-bantuan lain yang dibutuhkan. Jika tidak, maka sampai kapanpun kami tak akan sejahtera,” ujar pria tua yang anak sulungnya kemarin dirumahkan oleh perusahaannya akibat krisis ekonomi global pandemik Covid-19 ini.

Di tempat lain kondisi yang sama juga dihadapi oleh Bu Eka pedagang canang dan bunga yang berjualan di Pasar Tabanan. Selama wabah virus Corona ini penghasilannya anjlok drastis. Dalam keseharian pada situasi normal perempuan asal Br. Pangkung Tabanan berjualan dari pukul 4 subuh dan pukul 8 pagi dagangannya sudah ludes terjual. Sejak adanya Surat Edaran Bupati Tabanan yang membatasi jam operasional pasar penjualannya turun tajam sampai 500 persen.

“Pembeli sepi, tak seperti sebelumnya saya habiskan 40 tusuk canang, semenjak Covid dari baru buka hingga sekarang satu tusuk saja tak laku. Operasional pasar waktunya pendek dan dibuka mulai jam 10 sampe jam 5 sore saja. Pengunjung pasar sedikit karna banyak pegawai yang biasanya belanja dirumahkan oleh kantornya. Ibu-ibu juga kebanyakan bikin canang sendiri di rumahnya. Biasanya dapat jualan 500 ribu, sekarang cuman 100 ribu saja sudah susahnya setengah mati,” tuturnya berkaca-kaca.

Saat ditanya beritabicaranetwork.com apa yang akan ia lakukan jika 3 bulan kedepan situasinya masih seperti ini, ia berharap kepada pemerintah Kabupaten Tabanan agar mengembalikan jam operasional pasar kembali normal seperti biasanya agar roda ekonomi tetap berjalan.

Biar bisa makan dan menghidupi keluarga, saya tetap berjualan canang walau hingga kini bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban para pedagang kecil akibat wabah Corona ini belum pernah diterima,” pungkasnya sedih (tb/bbn05)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close