Bali

Pedagang Buah dan Ojol Terpuruk Didera Krisis Covid-19

Pedagang buah, tukang parkir dan ojol di Tabanan Bali Jumat (17/4) mengaku penghasilannya merosot tajam selama wabah Corona.

Tabanan (BBN INDONESIA) – Riak kehidupan sosial ekonomi masyarakat untuk mencari nafkah selama penyebaran pandemi coronavirus (Covid-19) tetap berlangsung walau tidak seramai biasanya. Kendati demikian tidak sedikit diantara pedagang, penyedia jasa yang mengeluh karena sepinya pembeli akibat daya beli konsumen yang rendah dan imbauan stay at home terkait wabah Covid-19.

Hal itu dialami salah satunya oleh pedagang buah di pasar darurat Lapangan Alit Saputra, Dangin Carik, Tabanan yang bernama Ibu Kari. Tempat ini merupakan lokasi berjualan sementara bagi pindahan pedagang bermobil dari Pasar Transit dan Pasar Dauh Pala Tabanan. Sebelum Covid-19 melanda ia dan suaminya berjualan sayur-mayur di Pasar Kumbasari Denpasar dengan omzet harian rata-rata Rp. 2,5 juta per hari.

“Berhubung di Kumbasari sepi, kemudian saya pindah ke sini jual silik kaya, duren, boni dan manggis dalam sehari rata-rata hanya dapat 600 ribu. Apalagi oleh pemerintah berdagang dibatasi 4 jam saja mulai jam 11 siang sampe jam 4 sore. Disyukuri saja yang penting dapur bisa ngebul” tutur perempuan asal Tengkudak, Penebel didampingi suaminya Putu Gede Buana yang wajahnya kuyu. Mereka pasrah saja kalau dalam 3 bulan ke depan keadaannya masih seperti ini.

Tukang parkir yang memungut karcis di sekitar Lapangan Dangin Carik, I Made Madeg juga bercerita pendapatannya menurun tajam.
“Kalau sebelum wabah Covid-19 saya bisa dapat Rp. 300 ribu per hari saat bertugas di Jl. Diponegoro barat BRSUD Tabanan. Di area ini lebih sering dapat Rp. 100 ribuan saja per harinya,” beber lelaki yang juga menjadi pemangku di Desa Marga ini.

Sedangkan seorang driver ojek online (ojol) Grab, Wayan Alit Santosa yang kerap mangkal di sebelah barat Gedung Maria Tabanan juga menuturkan situasi dan kondisi yang sama.

“Saya dirumahkan oleh pemilik restoran tempat saya bekerja di Padang Linjong Canggu Badung yang tutup akibat Corona pada 15 Maret lalu. Kini saya coba mencari peruntungan untuk menyambung hidup dari ngojek. Sebelumnya frekuensi antar pesanan rata-rata 20 trip per hari tapi sekarang sekitar 6 sampai 8 trip saja. Drop 3 kali lipat. Klien seperti takut pesan ojol. Saya harap 3 bulan lagi ada perubahan dan badai segera berlalu,” tutup lelaki asal Wanasara Bongan, Tabanan ini sambil menerima panggilan yang masuk di gawainya. (bbn/db05)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close