Bali

NCPI BALI SERAHKAN BANTUAN MASKER UNTUK PERWAKILAN DESA ADAT DENPASAR

Ketua NCPI Bali Agus Maha Usada berfoto bersama Ketua Majelis Desa Adat Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet dan Bendesa Adat Pemogan, Bendesa Adat Panjer dan Bendesa Adat Padangsambian Kaja usai menyerahkan bantuan masker

Denpasar (BBN INDONESIA) – Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali menyerahkan bantuan masker kain kepada tiga bendesa adat (pimpinan desa adat) di Kota Denpasar, sebagai salah satu bentuk kepedulian dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di Pulau Dewata.

“Dengan penyerahan masker ini, sekaligus kami ingin memotivasi masyarakat agar melakukan upaya preventif atau pencegahan penyebaran COVID-19 dan memotivasi masyarakat supaya lebih disiplin menggunakan masker,” kata Ketua NCPI Bali Agus Maha Usada saat menyerahkan ratusan masker tersebut, di Sekretariat Majelis Desa Adat Provinsi Bali, di Denpasar, Senin.

Ketua NCPI menyerahkan ratusan masker itu kepada Ketua Majelis Desa Adat Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, yang kemudian Ida Pangelingsir menyerahkan langsung masker itu kepada Bendesa Adat Panjer, Bendesa Adat Pemogan dan Bendesa Adat Padangsambian Kaja, Kota Denpasar.

“Semua hendaknya disiplin dan melakukan upaya proteksi diri, salah satunya dengan mengenakan masker. Kami sangat mengharapkan kesadaran semua pihak untuk disiplin menggunakan masker karena kenyataannya di lapangan masih banyak yang tidak memakai,” ucap Agus.

Di sisi lain, Agus juga menyoroti pekerja migran Indonesia yang telah pulang ke Pulau Dewata agar disiplin mengisolasi diri selama 14 hari, meskipun dari hasil pemeriksaan rapid test di bandara hasilnya negatif.

“Setelah tujuh hari melakukan rapid test, bisa saja gejala positif COVID-19 nya baru keluar. Oleh karena itu, perlu digaungkan lebih intensif agar disiplin melakukan protokol isolasi diri,” ujarnya.

Bantuan masker masing-masing 300 lembar untuk setiap desa adat itu merupakan salah satu bantuan hasil donasi yang dikumpulkan NCPI bersama World Hindu Parisad (WHP), Ikatan Notaris Indonesia (INI) Bali, INTI Bali, PSMTI Bali, Pegadaian yang dapat ditransfer melalui Bank Mandiri (Rek 1450 0133 325 94), BRI (Rek 0368 0100 1643 568), BTN (0000 7013 0000 8396), BNI (9186 718 19).

Sebelumnya dana yang telah terkumpul juga telah dibelikan berbagai alat pelindung diri (APD) dan telah diserahkan dalam jumlah yang lebih besar ke Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID_19 Provinsi Bali pada 1 April 2020.

“Donasi-donasi lainnya tentu akan kami lanjutkan dan diberikan kepada pihak yang memerlukan karena ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” kata Agus.

Sementara itu, Penasihat NCPI Bali Ketut Ngastawa mengatakan bantuan yang diberikan kepada perwakilan desa adat jika dilihat dari besarannya mungkin tidak cukup banyak, namun itu merupakan bentuk keterpanggilan sebagai “krama” atau warga Bali.

“Kami melihat lembaga yang paling strategis di luar pemerintah adalah desa adat. Bayangkan jika sudah desa adat bergerak, termasuk dalam upaya pencegahan dan penanggulangan COVID-19 ini,” ucapnya.

Ngastawa dalam kesempatan itu juga mengharapkan pemerintah dapat membuka ke publik, skenario apa yang dirancang pemerintah dan jaring pengaman apa yang disiapkan di tengah kondisi pandemi COVID-19 seperti ini. Jika tidak diungkap ke publik, pastinya akan timbul keragu-raguan dari masyarakat.

Selain itu, dia berpandangan agar para pekerja migran Indonesia yang baru tiba di Pulau Dewata meskipun telah mengantongi sertifikat kesehatan dan hasil rapid test-nya negatif, tetap harus disiplin melakukan isolasi diri.

“Memang peran mereka selama ini besar sebagai pahlawan devisa. Tetapi anggap saja semuanya itu ‘bermasalah’, sehingga ketika baru pulang contohnya jangan langsung pelukan dengan anak, istri ataupun orang tua. Mereka benar-benar harus disiplin isolasi diri di dalam kamar, ini demi kebaikan keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Ketua Majelis Desa Adat Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet mengucapkan terima kasih atas keterpanggilan NCPI dan pihak-pihak terkait yang turut memberikan bantuan masker maupun APD dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

“Pekerja migran Indonesia yang baru datang idealnya memang mereka dianggap ‘sakit’ semua sehingga semua pihak lebih waspada dan mereka disiplin melakukan isolasi diri. Hanya saja untuk isolasi mandiri itu yang masih masalah di lapangan,” ucapnya.

Ida Pangelingsir mengajak para pekerja migran yang baru datang itu untuk melakukan isolasi mandiri dengan penuh tanggung jawab karena tidak saja memengaruhi kesehatannya sendiri, tetapi juga kesehatan keluarga dan masyarakat.

“Okelah mereka itu anak-anak muda, yang meskipun terpapar positif COVID-19 tanpa gejala, dengan imun yang bagus bisa segera pulih. Bagaimana dengan orang tua, anak dan istrinya di rumah. Jadi anggaplah total sekitar 22.700 pekerja migran dari Bali itu sebagai carrier atau pembawa COVID-19 yang harus digugah kesadarannya,” ucapnya didampingi Penyarikan Agung MDA Bali Ketut Sumarta dan jajaran MDA Provinsi Bali itu. (bbn/ant)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close