Bali

Sosok Veteran Siliwangi Asal Puri Anom, Usia 101 Tahun

Mayor (purn) I Gusti Ngurah Rai Sidhicarya (101)

Tabanan (BBN INDONESIA) – Puri Anom Tabanan selain dikenal sebagai cikal bakal lahirnya berbagai peristiwa sosial dan politik serta sebuah hub berprosesnya berbagai aktivitas kesenian dan kebudayaan namun menyimpan juga cerita dan tokoh heroik perjuangan menuju dan pasca perang Kemerdekaan RI.

Tokoh yang turut terlibat dan sangat berjasa dalam pergolakan tersebut yakni Mayor (purn) I Gusti Ngurah Rai Sidhicarya (101) adalah salah satu dari sedikit pejuang yang masih hidup, yang langsung mendapat Tanda Jasa Pahlawan dari Presiden RI pertama, Soekarno.

Ia adalah saksi hidup, wafatnya pahlawan nasional Daan Mogot pada pertempuran di hutan Lengkong. Peristiwa berdarah ini bermula dari Resimen IV TRI di Tangerang, dimana Resimen ini mengelola Akademi Militer Tangerang. Tanggal 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot memimpin puluhan taruna akademi untuk mendatangi markas Jepang di Desa Lengkong untuk melucuti senjata pasukan jepang. Daan Mogot didampingi sejumlah perwira, antara lain Mayor Wibowo, Letnan Soetopo, dan Letnan Soebianto Djojohadikusumo.

Dengan mengendarai tiga truk dan satu jip militer, mereka berangkat ke Lengkong. Di depan pintu gerbang markas, tentara Jepang menghentikan mereka. Hanya tiga orang, yakni Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan seorang taruna Akademi Militer Tangerang, yang diizinkan masuk untuk mengadakan pembicaraan dengan pimpinan Dai-Nippon. Sedangkan Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo ditunjuk untuk memimpin para taruna yang menungggu di luar.

Semula proses perlucutan berlangsung lancar. Tiba-tiba terdengar rentetan letusan senapan dan mitraliur dari arah yang tersembunyi. Senja yang tadinya damai jadi berdarah. Sebagian tentara Jepang merebut kembali senjata mereka yang semula diserahkan. Lantas berlangsung pertempuran yang tak seimbang. Karena kalah kuat, korban berjatuhan di pihak Indonesia. Sebanyak 33 taruna dan 3 perwira gugur dalam peristiwa itu. Sedangkan 1 taruna lainnya meninggal setelah sempat dirawat dirumah sakit. Perwira yang gugur adalah Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo.

Peristiwa berdarah itu kemudian dikenal dengan nama Peristiwa Pertempuran Lengkong. Pada waktu itu Akademi Militer berpusat di Tangerang sehingga banyak yang menjadi korban adalah Taruna.

Pria yang masih nampak gagah di usianya yang sepuh ini juga pelaku sejarah longmarch Pasukan Siliwangi dari Jawa Barat ke Jogjakarta.

Rai Sidhicarya yang akrab disapa Tuayah Cimahi ini langsung terlibat dalam operasi penumpasaan pemberontakan PRRI/ Permesta di Maluku dan DI/TII Kartosuwirjo di Jawa Barat.

Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ini dimulai oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwirjo, di Jawa Barat pada tahun 1948.

Awalnya pemberontakan ini sebagai penolakan atas perjanjian Renville yang menyerahkan kekuasaan di Jawa Barat kepada Belanda. Namun setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, pemberontakan ini masih tidak berhenti, namun berusaha untuk mengganti dasar negara Indonesia dengan ajaran agama Islam. Pemberontakan Kartosuwiryo kemudian diikuti oleh berbagai kelompok lain di daerah.

Perjuangan Semesta atau Perjuangan Rakyat Semesta disingkat Permesta adalah sebuah gerakan militer di Indonesia. Gerakan ini dideklarasikan oleh pemimpin militer dan sipil Indonesia bagian timur pada tanggal 2 Maret 1957. Pusat gerakan ini mulanya berada di Makassar yang pada waktu itu merupakan ibu kota Sulawesi.

Kembali ke sosok I Gust Ngurah Rai Sidhicarya, bisa jadi adalah satu-satunya putra Bali yang masuk Akademi Militer Tangerang, AKABRI Generasi Pertama Republik Indonesia.

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75 yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2020 tinggal sebentar lagi. Berbagai kegiatan yang membangkitkan rasa nasionalisme dan patriotisme digelar untuk memperingati hari yang sangat bersejarah bagi Bangsa Indonesia ini.

Di luar itu, semestinya peringatan Hari Kemerdekaan ini tak sekadar eforia semata. Namun juga momen untuk menghargai dan menghormati jasa para pahlawan dan pejuang yang telah berjasa bagi bangsa dan negara.

Momentum Hari Kemerdekaan RI setiap tahunnya memang sangat tepat apabila digunakan untuk senantiasa mengenang, menghargai dan menghormati jasa para pahlawan dan pejuang yang pada jaman dulu telah berhasil meraih dan merebut Kemerdekaan dari tangan penjajah. Namun tidak bisa dipungkiri, para generasi muda saat ini masih sangat minim pengetahuannya tentang tokoh-tokoh pahlawan dan pejuang yang banyak berjasa bagi Bangsa Indonesia.

Mungkin belum banyak yang mengetahui jika salah seorang sosok Pejuang yang dulu bertempur mempertahankan kemerdekaan RI ada di Tabanan, dan hingga saat ini masih bisa menceritakan dengan jelas pengalamannya meskipun dengan sedikit terbata-bata karena usianya yang tak lagi muda.

I Gusti Ngurah Rai Sidhicarya, kelahiran Tabanan, 21 Februari 1919 itu merupakan satu-satunya pejuang asal Bali yang terlibat dalam Pertempuran Lengkong di tahun 1946, atau satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan. Dimana dalam pertempuran tersebut Mayor Daan Mogot bersama 36 orang lainnya gugur dalam pertempuran melawan tentara Jepang saat hendak melucuti senjata di Hutan Lengkong, Tangerang, namun Rai Sidhicarya berhasil menyelamatkan diri.

Berbagai penghargaan pun ia dapatkan atas dedikasinya yang terlibat langsung dalam berbagai pertempuran di kesatuan Siliwangi, termasuk penghargaan dari Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno.

Di usianya yang sudah sangat senja, Rai Sidhicarya masih bisa menceritakan pengalamannya ketika ia masih muda dulu. Kepada beritabicaranetwork.com dan Bali Express (Jawa Pos Group) yang sempat mewawancarainya, ia menuturkan jika sejatinya ia tak pernah menyangka bisa menjadi seorang Tentara Republik Indonesia kala itu. Terlahir menjadi keturunan bangsawan tidak membuat dirinya sombong. Bahkan Rai panggilan akrabnya mampu beradaptasi dengan golongan mana saja dan banyak memiliki teman.

“Pada umur 10 tahun saya mulai bersekolah di Sekolah Dasar Lanjutan selama 5 tahun. Setelah tamat saya bekerja di Rumah Sakit Wangaya di tahun 1934,” ujarnya ketika dikunjungi di kediamannya di Jalan Hasanudin, Nomor 11 A, Banjar Dangin Carik, Tabanan.

Perjalanannya dimulai ketika di tahun 1937 ia mendapatkan tawaran untuk melanjutkan pendidikan keperawatan di Rumah Sakit Central Burgerlijke Zieken Huis (RS. CBZ) di Batavia (Jakarta) oleh Kepala Rumah Sakit Wangaya saat itu. Tawaran itu pun tak ia sia-siakan meskipun sempat dilarang oleh orang tuanya.

“Lalu di tahun 1938 akhirnya saya berangkat ke Batavia bersama 12 orang lainnya dari Tabanan untuk bersekolah di RS CBZ. Sebelum berangkat saya dihadiahi cincin emas permata indah oleh nenek saya. Cincin itulah yang selalu saya pakai termasuk saat saya menjadi prajurit Siliwangi dan bertempur melawan tentara Belanda maupun Jepang,” paparnya.

Akhirnya pada bulan November 1945, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan seruan yang ditujukan kepada para pemuda Indonesia untuk menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang membuat dirinya tergerak untuk mendaftar hingga akhirnya diterima dengan pangkat Sersan.

Selanjutnya Rai pun bergabung dalam Akademi Militer angkatan pertama dengan lama pendidikan 5 bulan di Tangerang di bawah kepemimpinan Mayor Daan Mogot.

“Saya menjadi TKR dan meneruskan ke Militer Akademi Tangerang (MAT) bukan sekadar untuk mendapatkan pangkat atau kedudukan tinggi, namun semata-mata untuk berdharma bakti turut berjuang untuk membela kemerdekaan Negara dan Bangsa,” tegas Rai Sidhicarya.

Menurut Rai, pendidikan di Militer Akademi Tangerang (MAT) bukan lah hal yang mudah karena sangat berat dan keras.

Keinginan untuk berdharma bakti turut berjuang membela kemerdekaan Republik Indonesia membuat pria yang satu ini memutuskan menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan meneruskan ke Akademi Militer Tangerang (MAT). Padahal pendidikan tersebut sangat berat dan keras, namun Rai Sidhicarya berhasil menjalani pendidikannya dan ikut berjuang.

I Gusti Ngurah Rai Sidhicarya kembali melanjutkan cerita perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya dengan memutuskan untuk bergabung ke Akademi Militer Tangerang (MAT), sama saja dengan memutuskan untuk masuk ke ‘Kawah Candra Dimuka’, begitu orang-orang kala itu menilainya. Karena latihan berat dank eras diberikan dalam segala cuaca, baik panas maupun hujan lebat. Baik pagi, siang, sore dan malam. “Jadi calon perwira ketika itu lahir dan tumbuh ditengah-tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, sehingga taruna MAT tidak mungkin lepas dari arus pergolakan perjuangan,” tegasnya.

Mayor (purn) I Gusti Ngurah Rai Sidhicarya beristrikan Roro Suwarni yang telah berpulang dan setelah menikah secara adat Hindu Bali berubah menjadi I Gusti Ayu Suwarni.

Putra-putri Rai Sidhicarya ada 3 orang, yang pertama alm. I Gusti Ngurah Yogiswara, yang kedua Sagung Widiatin Putri dan yang ketiga Sagung Diah Padmasari.

 

“Masyarakat Indonesia harus memahami isi dari Pancasila dan mengamalkannya dengan baik, karena Pancasila tidak terlepas dari ajaran Agama”, pesan beliau terhadap masyarakat Indonesia dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close