Asean

Media Asing dan Dunia Heran Orang Bali Kebal Terhadap Corona

Blogger Rio Helmi yang diwawancarai asiatimes.com dalam sebuah kesempatan bersama reporter beritabicaranetwork.com saat upacara umat Hindu di Pura Batukau Tabanan, Bali Kamis (20/2) lalu.

Jakarta (BBN INDONESIA) – Keheranan dunia dan media asing yang berbasis di Hongkong, Asia Times terhadap kekebalan orang Bali melawan coronavirus (Covid-19) dituangkan dalam beritanya, “Bali’s mysterious immunity to Covid-19” edisi Selasa (14/4). Jurnalisnya kelahiran Selandia Baru bernama John Mcbeth yang telah lama menghabiskan kariernya di kawasan Asia Tenggara.

Daerah pariwisata yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan asing dan sudah terkenal seantero dunia ini justru memiliki sedikit kasus dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia apalagi dibandingkan dengan negara lainnya. Padahal kunjungan wisatawan asal Cina, negara pertama yang terdampak Corona sempat meningkat ke Bali pada bulan Januari lalu.

Selama hampir tiga bulan pandemik ini berlangsung Bali hanya memiliki 86 kasus dan 2 kematian. Jumlah penduduk Bali sebesar 4,3 juta jiwa. Bandingkan dengan Kota Depok dengan penduduk hanya 1,9 juta yang kini memiliki kasus 122 orang dengan korban meninggal 31 orang demikian tulisnya di portal asiatimes.com

Saya juga merasa bingung karena itu tidak masuk akal. Kami tidak memiliki data, tetapi tidak ada tanda lonjakan kematian. Juga tidak ada cerita rumah sakit kewalahan menerima jumlah pasien, peningkatan tajam dalam kremasi atau bukti anekdotal (informasi yang berdasarkan pengamatan) lainnya bahwa coronavirus merajalela di 4,3 juta populasi pulau mayoritas pemeluk agama Hindu itu, di antaranya ribuan penduduk asing,” ungkap Rio Helmi, seorang warga Bali yang sudah lama menulis blog tentang kehidupan di sekitar desa sejuk Ubud tentang rendahnya jumlah kasus Covid-19 di Bali.

Sementara operator tur yang sudah lama mapan dan juga editor buletin online mingguan Balidiscovery, Jack Daniels mencatat bahwa kedua kematian Covid-19 di pulau Bali sejauh ini adalah orang asing termasuk seorang wanita Inggris dan pria Perancis yang memang punya masalah kesehatan sebelumnya. “Kami tidak mendengar kabar jumlah kematian yang besar di luar sana,” ujar Jack Daniels.

Apa yang membuat orang heran dengan situasi Bali yang tampak adem ayem saja ini adalah bahwa jumlah kedatangan wisatawan China ke Bali sebenarnya meningkat sebesar 3% pada bulan Januari, bulan yang sama dengan ditutupnya atau lockdown di Wuhan.

Bahkan, mereka masih tiba sampai 5 Februari ketika pihak berwenang akhirnya melaksanakan lockdown untuk melarang masuk siapa pun yang berada di China dalam 14 hari sebelumnya. Kok hal ini tidak menyebabkan ledakan jumlah penderita wabah Covid 19?” tanya asiatimes dalam tulisannya.

Ketika semua pariwisata asing akhirnya dihentikan pada 31 Maret, sejumlah besar dari sekitar 20.000 orang Bali yang dipekerjakan di industri kapal pesiar internasional telah kembali ke Bali. Dan mereka tidak melakukan karantina sebelumnya kata penduduk setempat.

Padahal para pekerja pariwisata ini yang selama ini dicurigai dan ditakutkan akan menjadi sumber penyebaran Covid 19. Mereka ternyata juga aman-aman saja,” imbuh media yang fokus pada isu-isu menarik di kawasan Asia dan Asia Tenggara tersebut.

Diperkirakan masih ada 5.000 warga Australia yang bertahan di Bali, banyak diantara mereka sudah menjadi warga Indonesia yang memiliki bisnis atau hidup dalam masa pensiun. Orang Australia adalah orang asing terbanyak di Bali, tetapi ada juga ribuan warga negara lain di pulau wisata legendaris itu. Mereka hidup dengan tenang dan aman-aman saja di Bali.

Pada 1 April, Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia mendaftarkan 270 hotel di Bali di antara 1.149 hotel yang ditutup secara nasional karena pandemi. Tapi jumlah ini dengan cepat bertambah karena mereka yang tetap terbuka melaporkan tingkat hunian mereka hanya di bawah 10%. Tidak ada hotel yang bisa bertahan hanya dengan tingkat okupansi hanya sekian. Mereka hanya bertahan sebisa-bisanya. Ini adalah pukulan terbesar bagi industri pariwisata Bali meski dibandingkan dengan kasus Bom Bali I dan II.

Jadi kalau anda ingin berlibur ke Bali di saat sangat sepi seperti ini mereka tentu dengan senang hati menerima anda,” demikian ajakan media ini.

Namun demikian seperti imbauan pemerintah kita mesti tetap waspada dengan menjalankan protap kesehatan dengan ketat seperti jaga jarak, cuci tangan dengan sabun, hindari keramaian, disinfeksi, gunakan masker  jika terpaksa berpergian dll agar pandemik Corona ini segera berakhir. (asiatimes/bbn)

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close