Bali

Masa Pandemi, Petani Buleleng Kembangkan Mina-Padi

Penebaran benih ikan nila di sawah yang ditanami padi.

Singaraja (BBN INDONESIA) – Petani di Kabupaten Buleleng, Bali, mulai serius mengembangkan program mina-padi untuk meningkatkan produktivitas petani pada masa pandemi COVID-19.

“Pola tanam mina padi adalah penggabungan antara budidaya ikan dan pertanian,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng Gede Melandrat, setelah menebar bibit ikan nila bersama petani di Dusun Mandul, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Kamis.

Ia mengatakan para petani menebarkan sebanyak 8.000 ekor benih ikan nila di lahan pertanian. Para petani tampak bersemangat karena pola tanam mina padi ini diyakini dapat menyuburkan lahan sawah dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur hara.

“Selain itu, padi yang dihasilkan adalah padi organik yang lebih sehat karena tidak menggunakan pestisida kimia,” katanya.

Secara ekonomis, budidaya mina padi dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah karena selain tidak mengurangi hasil padi, juga dapat menghasilkan ikan, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, serta mencegah alih fungsi lahan sawah.

“Budidaya mina padi dapat diusahakan oleh pembudidaya ikan dan petani dengan teknologi yang sederhana dan terus berkembang,” katanya.

Gede Melandrat menuturkan, dari 8.000 ekor benih ikan nila yang ditebar, akan mampu menghasilkan 1 ton ikan nila dalam waktu 6 bulan. “Tentunya ini membawa dampak yang baik dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat petani,” tuturnya.

Di Buleleng, banyak lahan pertanian yang bisa dikembangkan sebagai sentra pembudidayaan ikan dengan pola mina-padi. Salah satunya adalah lahan pertanian di Desa Panji. “Desa Panji memiliki sistem irigasi atau subak yang cukup baik dari sudut pengelolaan air,” katanya

Dengan sistem irigasi dan pengelolaan air pertanian yang bagus, maka air tidak akan mudah terkontaminasi. Dengan air yang bersih tanpa tercemar pestisida, maka budidaya dengan pola mina-padi bisa dilakukan dengan ramah lingkungan dan beras yang dihasilkan adalah beras yang bebas dari pestisida.

“Banyak petani di desa lain yang bagus dalam mengelola air dan jika ada desa lain yang ingin melakukan pola mina-padi, kami siap mendukung,” kata Melandrat.

Sejauh ini, lanjut Melandrat, produksi ikan air tawar di Buleleng masih rendah dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi ikan. Untuk itu, Buleleng masih mendatangkan ikan dari daerah lain seperti Jembrana.

“Selama ini olahan ikan air tawar pun masih sedikit di Singaraja, padahal kalau dikembangkan sampai menjadi produk olahan, itu sangat baik, karena mampu mendapatkan mendatangkan hasil yang lebih banyak untuk petani,” katanya.

Untuk pemasaran olahan ikan, kata Melandrat, pihaknya siap untuk memfasilitasi petani atau UMKM yang ingin memasarkan hasil olahannya, apalagi Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan memiliki kegiatan pada gelar pangan lokal.

“Kegiatan kita juga termasuk mendorong ekonomi mikro yang ada di desa. Jadi kegiatan yang sudah kami lakukan seperti gelar pangan lokal yang isinya produk dari UMKM, KWT, dan Kelompok Tania atau kelompok masyarakat desa. Ini merupakan salah satu ruang untuk mengapresiasi masyarakat dan mendorong masyarakat untuk bisa memasarkan produknya di daerah perkotaan,” katanya. (BBN/Ant)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close