Bali

Mangku Pastika: Optimalkan Potensi Kawasan Pesisir dan Pantai Bali

Anggota DPD Made Mangku Pastika dalam acara penyerapan aspirasi bertajuk Sinergitas Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pantai yang dikombinasikan secara virtual dan langsung 

Denpasar (BBN INDONESIA) – Anggota DPD RI Made Mangku Pastika mengatakan selama ini kawasan pesisir dan pantai di Pulau Dewata perlu lebih dioptimalkan potensinya sehingga bisa memberikan kesejahteraan yang lebih besar bagi masyarakat.

“Jangan potensi hanya tetap potensi. Kita seringkali merasa nikmat di zona nyaman, padahal potensi kawasan kita sangat hebat,” kata Pastika dalam acara penyerapan aspirasi bertajuk Sinergitas Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pantai yang dikombinasikan secara virtual dan langsung, di Denpasar, Kamis.

Menurut Pastika, masyarakat Bali sudah seharusnya bersyukur karena menjadi pulau yang diberkati, lengkap memiliki pantai, gunung, danau, sungai dan hutan. “Tidak semua pulau punya hal seperti ini, apalagi ditambah dengan orang Bali yang kreatif dan ‘nyeni,” ucapnya dalam kegiatan yang dipadukan langsung dengan kegiatan masyarakat Tanjung Benoa, Kabupaten Badung itu.

Mantan Gubernur Bali dua periode itu mengatakan hampir semua pantai di Bali berfungsi sebagai tempat pariwisata dan tentunya yang tidak kalah memegang peranan penting adalah nelayan.

Di tengah kondisi pandemi COVID-19, ujar dia, semestinya tidak harus dihadapi dengan kesedihan yang berkepanjangan. Malah ini menjadi kesempatan untuk kembali eling dan waspada terhadap nilai-nilai yang telah digariskan leluhur.

Dalam kesempatan itu, Pastika juga mengajak masyarakat di Tanjung Benoa agar juga turut mempelajari Ranperda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Bali.

“Tolong dipelajari betul, terutamanya para pemimpin dan tokoh-tokoh mumpung aturannya belum jadi. Apalagi di sana ada 70 titik suci yang berada di kawasan konservasi,” ujarnya.

Namun, dalam penyampaian aspirasi tersebut agar tetap mengedepankan etika dan budaya, maupun sesuai dengan aturan yang ada. Menurut dia, peran partisipasi masyarakat begitu penting karena biasanya pembuat aturan belum paham betul kondisi lapangannya.

Sementara itu, Ketut Astari selaku Kabid Kelautan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali memaparkan sejumlah nilai ekonomi penting kawasan pesisir dan laut Bali seperti dari sisi perikanan tangkap, perikanan budidaya, perdagangan produk ornamental/akuaria laut tropis, industri rumput laut, industri air laut-dalam, pemanfaatan energi baru terbarukan, pariwisata pesisir dan bahari hingga transportasi laut.

“Bali juga adalah salah satu sentra penghasil rumput laut karaginan di Indonesia dengan produksi rata-rata 100 ribu ton pertahun, menyumbang 65 persen  produksi perikanan Bali dan seluruhnya diekspor bahan mentah melalui Surabaya,” ucapnya.

Astari mengatakan pada 2017 produksi budidaya rumput laut sempat sangat anjlok sekali ketika pariwisata Bali masih sedang ramai-ramainya sehingga banyak petani yang beralih ke sektor pariwisata.

“Namun, COVID-19 menyebabkan mereka kembali ke mata pencaharian awal sebagai petani rumput laut, seperti halnya yang terjadi di Nusa Penida. Kami berharap rumput laut bisa bergairah kembali karena kini harganya naik dan Bali juga sudah memiliki pabrik untuk pengolahahan rumput laut basah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI)  Bali I Nengah Manu Mudhita meminta pemerintah daerah serius melindungi para nelayan yang kehidupannya tidak mendapatkan kepastian.

“Posisi ekonomi nelayan selalu berada di garis marjinal. Untuk itu, kehadiran negara begitu penting sehingga nelayan tetap eksis hingga anak cucunya,” katanya.

Ia juga berharap perlindungan pada nelayan semakin meningkat sejalan dengan penyusunan Ranperda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Bali.

Sementara itu, Pengusaha Bahari Tanjung Benoa I Wayan Ranten meminta dalam penyusunan Ranperda RZWP3K Bali melibatkan nelayan atau masyarakat Tanjung Benoa. Hal ini mengingat masyarakat Tanjung Benoa sehari-hari berkecimpung di laut, hidup dari nelayan maupun saat ini dari wisata bahari sebelum adanya pandemi COVID-19.

“Saya tahu betul sejarah perkembangan Tanjung Benoa, hidup melarat dari mengandalkan nelayan hingga mampu mengembangkan pariwisata bahari dikenal dunia,” kata Ranten.

Atas kegigihannya bersama masyarakat setempat, Wisata Bahari Tanjung Benoa sempat meraih Juara III Nasional Wisata Bahari Tahun 2010.

Untuk itu, Ranperda RZWP3K Bali agar disosialisasikan terlebih dahulu, mengingat selama ini pihaknya belum pernah dilibatkan.

Dalam kesempatan tersebut, Made Mangku Pastika juga memberikan bingkisan bahan pokok untuk kelompok nelayan yang diserahkan oleh Ketut Ngastawa yang merupakan salah satu staf ahlinya. (BBN/Ant)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close