Hukum

Kolektor minta MK ubah pendirian soal jaminan fidusia

Jakarta (BBN INDONESIA) – Seorang kolektor bernama Joshua Michael Djami meminta Mahkamah Konstitusi mengubah pendiriannya terhadap Pasal 15 ayat (2) Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia karena menyebabkan pendapatannya berkurang.

“Dengan adanya pengaturan prosedur fidusia seperti sekarang, pemohon tidak mendapatkan perlindungan hukum yang adil karena profesi pemohon profesi yang sah dan pemohon melakukan tugasnya dengan baik dan benar, namun mendapat tanggapan yang tidak menyenangkan dari para pemberi fidusia,” ujar kuasa hukum pemohon Zico Simanjuntak dalam sidang perdana perkara tersebut di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu, yang disiarkan secara daring.

Setelah Putusan MK Nomor 18/PUU-XVII/2019 pada awal 2020, ia menyebut terjadi penurunan jumlah kasus yang dikerjakan secara drastis karena kreditur harus membawa perkara ke pengadilan sebelum melakukan eksekusi pengambilan objek jaminan fidusia.

Selain itu, ia mendalilkan terjadi ketiadaan perlindungan hukum yang adil untuk industri pembiayaan karena biaya yang dikeluarkan untuk eksekusi lebih besar dari nilai barang.

Padahal dari sisi praktik di lapangan, menurut kuasa hukum pemohon, putusan MK memberikan celah untuk debitur untuk mengulur waktu dan melarikan barang.

Menanggapi permohonan itu, Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih menyoroti pemohon belum menyebutkan hak konstitusional yang dirugikan dengan berlakunya pasal yang dimaksud setelah putusan MK.

“Ini tolong kemudian diperhatikan soal hak itu, ya. Hak yang mana yang dilanggar oleh berlakunya undang-undang tersebut? Ini tolong nanti dipertegas,” ujar Enny Nurbaningsih.


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close