Bisnis

Kemenperin paparkan kendala IKM makanan dari bahan baku hingga omzet

Jakarta (BBN INDONESIA) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memaparkan sejumlah kendala yang dihadapi Industri kecil dan menengah (IKM) makanan, terutama pasokan bahan baku dan harganya yang melonjak hingga omzet yang anjlok sampai 90 persen.

“Data yang kami terima, yaitu pasokan bahan baku IKM makanan sulit didapat dan harganya saat ini terbilang meningkat,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Beberapa harga bahan baku yang melonjak antara lain kedelai dari Rp6.700 menjadi Rp 8.500 per kilogram. Saat ini kedelai masih mudah ditemui di Pulau Jawa, tapi sulit di luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi.

Kemudian gula pasir, harganya naik dari Rp12.500 menjadi Rp18.000 per kilogram, bahkan ada yang mencapai Rp21.000 per kg di Kota Palu. Selain itu, ada pembatasan pembelian gula pasir maksimal 3 kilogram.

“Jika ingin membeli kemasan bulk besar, harus di distributor dan dalam jumlah yang besar sekali,” ujar Gati.

Demikian pula dengan harga gula rafinasi, melonjak dari Rp9.000 menjadi Rp11.000 per kilogram. Kemudian harga buah-buahan meningkat sekitar 20 persen, dan bahan baku susu segar naik dari Rp6.500 menjadi Rp8.500 per liter.

Harga jahe merah turut naik hingga melebihi 100 persen yakni dari Rp35.000 menjadi Rp70.000 per kilogram. Bahkan mencapai Rp130.000 per kilogram di Kota Palu. Untuk harga bawang putih juga tak luput dari kenaikan harga, yakni dari Rp35.000 menjadi Rp55.000 per kilogram.

Lebih jauh Gati menuturkan IKM makanan juga mengalami penurunan omzet hingga 50 persen. Bahkan ada yang anjlok hingga 90 persen.

“Pada akhirnya, mereka menjual secara obral stok yang ada agar tidak menumpuk di gudang dan supaya mendapat pemasukan,” ujar Gati.

Selain itu, lanjut dia, pasar ekspor juga turut mengalami hambatan, karena diberlakukannya karantina atau lockdown, seperti yang terjadi pada ekspor bawang goreng Monita dari Kabupaten Kuningan ke Arab Saudi.

Untuk itu, kata dia, IKM terus menjalankan penjualan secara daring agar tetap mendapatkan pemasukan, seraya berharap agar akses pengiriman barang tetap dapat berjalan meskipun diberlakukan karantina wilayah.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, kata dia, IKM makanan mengharapkan sejumlah bantuan dari pemerintah, di antaranya berupa bantuan modal usaha, penundaan pembayaran kredit perbankan, stabilisasi harga bahan baku agar kembali seperti semula, dan adanya intervensi pemerintah pusat untuk menjamin ketersediaan bahan baku hingga ke daerah, terutama gula pasir.

Selain itu, diharapkan bantuan dari pemerintah baik hibah maupun pinjaman, penundaan pembayaran iuran PDAM dan PLN, keringanan pembayaran BPJS karena karyawan dirumahkan, penundaan pembayaran pajak, hingga subsidi biaya pengiriman untuk penjualan online, terutama untuk Indonesia Bagian Timur yang mengalami kendala pada mahalnya biaya kirim.

“IKM melakukan penggiliran jam kerja, yang berarti akan terjadi pengurangan pendapatan pegawai karena upah dibayar secara harian. Nampaknya kondisi ini berlaku di sebagian besar IKM makanan,” ujar Gati.


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close