Friday, 03-12-2021
Asean

Karena corona, Myanmar akan “lockdown” di masa festival Thingyan

Jakarta (BBN INDONESIA) – Pemerintah Myanmar akan menerapkan kebijakan karantina wilayah atau lockdown pada 10 hingga 19 April  sebagai upaya mencegah wabah COVID-19 tersebar lebih luas, menurut keterangan pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon, Rabu.

“Pemilihan durasi tersebut adalah karena liburan Thingyan terjadwal selama tanggal yang dimaksud,” kata Pelaksana Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Yangon, Sylvia Masri, kepada BBN INDONESIA.

Festival Thingyan disebut juga sebagai peringatan Tahun Baru Myanmar yang dirayakan selama empat hari pada tanggal 13 sampai 16 April setiap tahun dengan tradisi saling menyiram air, jalan dan tempat umum biasanya dipenuhi oleh masyarakat.

“Perintah lockdown pada masa liburan Thingyan dikeluarkan demi memastikan tidak ada masyarakat yang berkumpul agar dapat memperkecil risiko penyebaran COVID-19,” Sylvia menambahkan.

Dia juga menjelaskan bahwa sekolah di Myanmar ditutup hingga akhir April, tempat-tempat umum ikut ditutup atau dibatasi jam operasionalnya, dan “arahan itu secara umum dipatuhi oleh masyarakat.”

Sementara di Mandalay, salah satu kota terbesar di Myanmar, kebijakan karantina wilayah telah diberlakukan mulai Selasa (7/4) kemarin hingga waktu yang ditentukan kemudian.

Myanmar melaporkan dua kasus infeksi virus corona pertama pada 23 Maret dengan kedua pasien warga negara Myanmar yang masing-masing baru kembali dari Amerika Serikat dan Inggris. Hingga 7 April, terkonfirmasi sebanyak 22 kasus dengan tiga kematian.

Pemerintah negara itu mulai mengambil sejumlah langkah pencegahan lebih lanjut, di antaranya pada 25 Maret mengharuskan warga negaranya yang kembali dari perjalanan luar negeri untuk menjalani karantina di fasilitas kesehatan yang ditentukan.

Kemudian per 31 Maret hingga 14 April, penerbangan komersial internasional dari dan menuju Myanmar dihentikan demi mencegah kasus COVID-19 impor yang penularannya terjadi di luar negeri.

Selain itu, pada 2 April lalu, tiga kelompok etnis bersenjata di Myanmar juga berkontribusi dalam penanggulangan wabah COVID-19 dengan bersepakat untuk melakukan gencatan senjata selama satu bulan.

“Ketiga kelompok itu adalah Ta’ang National Liberation Army (TNLA), Myanmar Democratic Alliance Army serta Arakan Army (AA), yang baru-baru ini dinyatakan oleh pemerintah sebagai organisasi teroris,” kata Sylvia.


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button