Finansial

Ekonom: penurunan GWM untuk tambah likuiditas di pasar obligasi

Jakarta (BBN INDONESIA) – Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menilai penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah yang dilakukan bank sentral lebih bermanfaat untuk menambah likuiditas di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

“Penurunan GWM yang seharusnya menambah likuiditas di perbankan, sepertinya akan dimanfaatkan untuk menjaga likuiditas secara tidak langsung di pasar obligasi,” kata Satria di Jakarta, Selasa.

Satria mengatakan penurunan kembali GWM itu lebih efektif untuk memperkuat pasar obligasi pemerintah, karena perbankan dalam kondisi saat ini masih menahan laju pertumbuhan kredit.

“Di saat risk-off karena Covid-19 seperti ini, bank-bank pasti akan fokus pada kualitas aset dan bukan pertumbuhan kredit,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah lebih membutuhkan adanya pembiayaan tersebut untuk mendukung berbagai program penanganan COVID-19 yang diestimasikan bisa mencapai kisaran Rp1.000 triliun.

Apalagi, tambah Satria, situasi global yang belum stabil masih mempengaruhi kondisi pembiayaan, yang terlihat dari minimnya jumlah penawaran untuk lelang Surat Utang Negara (SUN) rutin pada Selasa.

“Pasar masih tidak stabil kedepannya, banyak data-data yang akan keluar dan bisa mengubah sentimen global. Data PDB Tiongkok kuartal satu akan keluar 17 April dan PDB AS di 29 April,” ujarnya.

Sebelumnya, untuk menambah likuiditas, otoritas moneter kembali menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah untuk bank umum konvensional dan bank umum syariah atau unit usaha syariah mulai 1 Mei 2020.

Penurunan GWM rupiah masing-masing sebesar 200 basis poin untuk bank umum konvensional dan 50 basis poin untuk bank umum syariah atau unit usaha syariah ini akan menambah likuiditas Rp102 triliun.

Bank Indonesia juga tidak memberlakukan kewajiban tambahan Giro untuk pemenuhan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) selama setahun untuk menambah likuiditas sebesar Rp15,8 triliun.

“Sehingga dari penurunan GWM dan RIM ini akan menambah injeksi likuiditas kurang lebih Rp117,8 triliun, untuk mendukung injeksi yang sudah diberikan sebelumnya Rp300 triliun,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Sementara itu, pada Selasa (14/4), pemerintah menyerap dana sebesar Rp16,8 triliun dari lelang tujuh seri SUN, atau lebih rendah dari target indikatif Rp20 triliun.

Total penawaran yang masuk dari lelang tersebut hanya mencapai Rp27,6 triliun atau terendah sejak Agustus 2019, meski imbal hasil yang ditawarkan masih cukup kompetitif.


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close