Bisnis

BPS: Harga daging ayam dan telur turun picu deflasi September

Jakarta (BBN INDONESIA) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat turunnya harga daging ayam ras dan telur ayam ras menjadi pemicu terjadinya deflasi pada September 2020 sebesar 0,05 persen.

“Turunnya harga daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing menyumbang andil deflasi 0,04 persen,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan harga daging ayam ras mengalami penurunan di 67 kota dengan penurunan paling tinggi terjadi di Watabone dan Maumere masing-masing sebesar 24 persen.

Sedangkan,  harga telur ayam ras juga mengalami penurunan di 79 kota dengan penurunan paling tinggi terjadi di Kotabaru sebanyak 26 persen.

Selain dua komoditas itu, bahan makanan lainnya yang juga menyumbang deflasi adalah bawang merah dengan andil 0,02 persen serta jenis sayuran seperti tomat dan cabai rawit masing-masing 0,01 persen.

Meski demikian, terdapat bahan pangan yang masih mengalami kenaikan harga seperti minyak goreng yang menyumbang inflasi 0,02 persen dan bawang putih 0,01 persen.

Dari sisi kelompok pengeluaran, Suhariyanto mengatakan terdapat empat kelompok yang mengalami deflasi pada September 2020.

Kelompok itu antara lain kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami deflasi 0,37 persen, kelompok transportasi 0,33 persen serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan masing-masing 0,01 persen.

“Kelompok transportasi turut menyumbang deflasi karena terjadinya penurunan tarif angkutan udara di 40 kota dengan andil 0,04 persen. Penurunan tarif tertinggi terjadi di Tanjungpinang sebanyak 39 persen,” katanya.

Kelompok lainnya masih menyumbang inflasi seiring dengan kenaikan harga komoditas tertentu, salah satunya adalah kelompok pendidikan 0,62 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,25 persen serta kelompok kesehatan 0,16 persen.

“Kelompok pendidikan menyumbang inflasi karena terjadinya kenaikan uang kuliah di 19 kota dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen,” ujar Suhariyanto.

Dengan terjadinya deflasi, maka inflasi tahun kalender Januari-September 2020 mencapai 0,89 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 1,42 persen.

Dari 90 kota IHK, sebanyak 56 kota menyumbang deflasi dan hanya sebanyak 34 kota yang mengalami inflasi pada September 2020.

Deflasi tinggi terjadi di Timika sebesar 0,83 persen serta deflasi rendah di Bukittinggi, Jember, Singkawang masing-masing sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, inflasi tinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1 persen serta inflasi rendah di Pontianak dan Pekanbaru masing-masing sebesar 0,01 persen.
 


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close