Hukum

BPBD Pasaman Barat maafkan ajudan ketua DPRD curi thermo gun

Simpang Empat,- (BBN INDONESIA) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, menerima permintaan maaf ajudan Ketua DPRD Pasaman Barat, Torang Fernando yang diduga mencuri thermo gun atau alat pengukur suhu badan milik BPBD setempat.

“Sebagai manusia dan umat Muslim, permintaan maafnya diterima. Namun terhadap proses hukumnya kami menyerahkan ke Polres Pasaman Barat,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pasaman Barat Decky H Saputra di Simpang Empat, Rabu.

Menurutnya persoalan perkara thermo gun itu sudah ditangani penyidik Polres Pasaman Barat. Bahkan dirinya bersama pelapor lainnya dan saksi telah diperiksa dimintai keterangan.

“Memang sebelumnya kami membuat laporan ke Polres Pasaman Barat terkait hilangnya aset kantor berupa thermo gun. Bahkan rekaman CCTV juga sudah ada sama penyidik,” ujarnya.

Ketika ditanya siapa yang terekam CCTV itu ia mengatakan ada oknum pimpinan DPRD Pasaman Barat beserta ajudan dan supirnya menggunakan mobil sedan plat merah.

“Persoalan apakah Ketua DPRD mengetahui thermo gun itu diambil silahkan tanya ke penyidik. Bukti CCTV sudah ada sama pihak Polres Pasaman Barat,” sebutnya.

Pihaknya hingga saat ini belum ada mencabut laporan di Polres Pasaman Barat. Namun menyerahkan sepenuhnya ke penyidik karena Thermo Gun itu bukan milik pribadi tetapi merupakan aset daerah atau negara.

“Kemarin ajudan DPRD datang meminta maaf dan mengakui perbuatan mengambil thermo gun. Tentu sebagai manusia kami maafkan namun negara kita negara hukum dan kami serahkan ke pihak Polres Pasaman Barat apa langkah yang akan diambil karena rekaman CCTV disitu jelas siapa yang ada saat thermo gun itu hilang,” ujarnya.

Ia mengatakan ajudan Ketua DPRD Pasaman Barat Torang Fernando datang ke kantor BPBD pada Selasa (18/8) didampingi Kepala Inspektorat, Harisman Nasution, Asisten Pemerintahan Setia Bakti dan Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Teguh Suprianto.

Torang Fernando meminta maaf kepada BPBD atas keteledorannya mengambil thermo gun beberapa waktu lalu di kantor BPBD setempat.

Torang dan sopir Ketua DPRD diterima oleh Sekretaris BPBD Gustrizal dan Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Decky H Saputra di ruangan BPBD Pasaman Barat.

“Dia mengakui memang telah mengambil thermo gun tersebut dan dia minta maaf. Permintaan maaf itu juga dibuat secara tertulis di atas materai yang diberikan kepada kami,” sebutnya.

“Soal maaf sudah kami maafkan, tetapi soal hukum kita serahkan saja ke Polres Pasaman Barat,” tegasnya.

Sebelumnya Kepala BPBD Pasaman Barat Edi Busti saat jumpa pers pada Rabu (15/8) menegaskan thermo gun yang hilang pada Jumat (10/4) lalu diduga dicuri bukan dipinjam.

Ia menegaskan, thermo gun itu diduga dicuri tidak ada dipinjam. Apalagi rekaman CCTV terlihat ada tiga orang yang datang ke kantor BPBD pakai mobil sedan camry plat merah warna silver dan membongkar dua boks (dibawah tenda dan samping posko) serta mengambil therm gun.

Ia mengatakan tiga orang itu pihaknya melihat mirip salah satu unsur pimpinan DPRD Pasaman Barat dan dua orang lagi mirip dengan ajudan dan supirnya.

“Kepastian siapa tiga orang itu tentu pihak penyidik di Polres Pasaman Barat yang akan memastikan karena kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian,” katanya.

Menurutnya pada Jumat (10/4) lalu salah satu unsur pimpinan DPRD Pasaman Barat menghubunginya melalui telephon meminta cairan disinfektan untuk penyemprotan di daerah Padang Lawas Kecamatan Luhak Nan Duo.

“Dalam pembicaraan itu tidak ada membahas masalah thermo gun. Jejak digital bisa dibuktikan,” tegasnya.

Kemudian sekitar pada pukul 08.00 WIB petugas piket datang dan melihat thermo gun di meja piket tidak ada.

Sebab pada 10 April 2020 saat itu kebetulan libur nasional (kenaikan Isa Al-Masih) dan petugas piket ditarik dari posko perbatasan untuk piket di kantor.

“Saya baru mengetahuinya pada Sabtu (11/4) dan saya perintahkan petugas menggantinya karena pertanggungjawaban aset pemerintah,” ujarnya.

Berdasarkan itulah maka anggota BPBD yang piket saat itu membuat laporan pengaduan ke Polres Pasaman Barat.

“Harga thermo gun saat awal COVID-19 sekitar Rp3 juta karena barang langka dan sulit diperoleh. Makanya saya izinkan anggota membuat laporan pengaduan ke Polres Pasaman Barat,” ujarnya.

 


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close