Bali

BALI & COVID-19 Suatu Eksperimen Epidemiologi & Imunologi yang “Tak disengaja”

Ngunying atau ngurek di sebuah upacara pura di Bali. Foto: net

Bali (BBN INDONESIA) – Saya akan memulai dengan menyatakan bahwa saya bukan seorang ahli epidemiologi atau dokter atau ahli virus. Kapasitas saya hanya sebagai seorang pengamat. Dan apa yang saya amati di Bali saat ini sangatlah menarik dan patut mendapat perhatian lebih.

Berikut adalah beberapa hal yang berhasil saya amati dalam konteks penyebaran dan dampak Covid-19 di populasi di Bali.

Sementara berita-berita yang mengerikan berdatangan dari berbagai negara di Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia, situasi Corona di Bali malah menjadi sangat unik dan sangat positif.

Singkatnya: Tampaknya sebagian besar populasi Bali tidak terpengaruh sama sekali oleh Covid-19.

Tidak seperti Korea Selatan atau Taiwan, yang pemerintahnya menerapkan langkah-langkah intervensi ketat seperti tes virus, isolasi, pelacakan, dll. Untungnya tidak di Bali.

Salah satu langkah intervensi yang diberlakukan di Bali adalah pantai-pantai yang ditutup dan sebagian besar restoran yang melayani turis juga ditutup. Bahkan, keseluruhan industri pariwisata terhenti.

Hal ini terhubung dengan bandara, yang biasanya menjadi pintu masuk 95% turis yang berkunjung ke Bali, yang kini telah ditutup sejak minggu pertama bulan Februari 2020.

Semua Sekolah telah ditutup sejak pertengahan Maret dan juga sebagian besar kantor-kantor umum & pemerintah.

… Tapi hanya itu saja. Selain hal -hal tersebut diatas, semua aspek kehidupan masyarakat di Bali tetap berjalan seperti biasa.

Pasar-pasar tradisional masih ramai dan usaha-usaha kecil yang melayani masyarakat luas tetap beroperasi seperti biasa.

Proyek-proyek konstruksi disekitar tempat tinggal saya masih sibuk. Bahkan industri -industri kecil di sektor pertanian di Bali, yang biasanya tidak terlibat dengan industri pariwisata, masih beroperasi seperti biasa.

Statistik Corona & COVID-19 untuk Bali

Berikut adalah angka statistik resmi per tanggal 17 April 2020.

Kasus yang terkonfirmasi: 113
Kasus yang sembuh : 32 Kasus kematian: 2

Apakah angka-angka tersebut bisa dipercaya?

Tidak juga. Namun angka-angka itu, secara gamblang, tetap menarik.

Sebelumnya, izinkan saya menjelaskan kenapa angka tersebut diatas belum akurat.

Tindakan pengujian tes virus Covid-19 di Bali memang sedikit. Itupun baru dimulai akhir-akhir ini saja.

Angka yang menurut saya paling layak mendapat perhatian adalah angka kematian. Saya kira angka ini lumayan akurat. Pun, dengan spekulasi, angka kematian yang sebenarnya mencapai 10 kali lipat (tidak memungkinkan), angka kematian di Bali masih cuma 20 saja.

Menurut krematorium di ibu kota Bali, Denpasar, jumlah kremasi tidak mengalami peningkatan sama sekali.

Rumah sakit normal, tidak mengalami kebanjiran pasien. Hampir tidak ada pembicaraan di Media Sosial yang melaporkan penderita dengan gejala seperti Corona.

Satu-satunya hal yang dapat saya temukan dalam grup Media Sosial adalah banyak pemilik bisnis di BALI yang melaporkan banyaknya jumlah karyawan mereka yang jatuh sakit di periode bulan November dan Desember 2019.

Banyak dari mereka yang menunjukkan gejala yang mirip dengan gejala Covid-19. Tetapi semua sudah sembuh.

Tentu saja, ini hanya anekdot.

Oh.. dan ngomong-ngomong kedua kematian yang dicatat dalam statistik ini adalah WNA, bukan WNI atau warga Bali.

Namun yang lebih menarik lagi adalah…

Nah, fakta-fakta tersebut diatas bisa jadi tidak berpengaruh sama sekali kalau Bali itu pulau yang terisolasi. Tapi kenyataannya kan tidak demikian.

Dan di sinilah bagian paling menarik.

Berikut alasannya:

Bali adalah salah satu tujuan pariwisata paling populer di dunia. Pulau ini dikunjungi 6 Juta lebih wisatawan dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Sekitar 25% – 30% dari wisatawan tersebut berasal dari Cina daratan. Wabah Coronavirus dimulai di Cina. Dari Cina merambat ke Eropa dan bagian lain dunia.

Adapun Bali, kita harus menganalisa faktor-faktor berikut ini.

Pada 2019 antara sekitar 1,3 Juta wisatawan Tiongkok mengunjungi Bali.

Berarti sekitar 25.000 wisatawan dari daratan Cina setiap minggunya.

Dan dari pertengahan Januari 2020, sebelum pecahnya pandemi Corona, ada 5 penerbangan langsung dari Wuhan ke Bali per minggu.

Di bulan Januari 2020, ada sekitar 113.000 wisatawan dari Cina mengunjungi Bali. Di bulan Desember 2019, ketika Coronavirus sudah menyebar, jumlah kedatangan wisatawan dari Cina bahkan lebih tinggi karena Desember adalah -high season- di Bali.

Jadi dari bulan Desember 2019 sampai Januari 2020, ada sekitar 220.000 wisatawan tiba dari Cina.

Imigrasi Bali telah berhenti menerima turis dari Cina sejak 5 Februari 2020.

Jadi faktanya adalah: Sejak merebaknya wabah virus corona di Cina dari akhir November 2019 hingga awal Februari 2020, ada hampir seperempat juta pengunjung dari Cina yang berlibur di Bali.

Jika kita hitung juga wisatawan dari negara-negara lain, maka setidaknya 400.000 wisatawan asing telah datang ke Bali di peiode Desember 2019 dan Januari 2020. Angka yang lumayan konservatif untuk pariwisata Bali.

Saya tidak perlu lagi mendalami angka statistik lebih lanjut. Sudah ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa ada banyak wisatawan dari China termasuk dari provinsi Wuhan dan Hubei yang bekunjung di Bali pada saat virus Covid-19 tengah menyebar luas di seluruh dunia.
Karena itu sangat mungkin ada sejumlah besar wisatawan dari Cina yang membawa masuk virus Covid-19 ke Bali.

Sebagian besar ahli epidemiologi akan setuju bahwa dengan angka seperti ini, virus Covid19 pasti telah merambah ke populasi di Bali. Bahkan mungkin dalam jumlah yang tinggi.

Namun kenyataannya, Bali tidak mengalami tanda-tanda pandemi sama sekali.

Perlu juga dicatat bahwa di akhir Maret lalu, masyarakat Bali merayakan salah satu hari raya keagamaan yang paling penting, yakni Melasti, dimana umat beragama Hindu Bali berbondong-bondong datang ke pura untuk beribadah. Kondisi pura-pura yang ramai dijejali umat-umat beragama yang datang saling berdesakan ini adalah kondisi yang optimal untuk penyebaran virus Covid-19

Banyak orang, saya termasuk, berdebar-debar, mengantisipasi bahwa dalam waktu 2 minggu setelah perayaan keagamaan itu, kita akan menyaksikan situasi pandemi yang jauh mengkhawatirkan di Bali.

Sekarang, 3 minggu kemudian… Tidak ada apa-apa..!

Tidak ada lonjakan penderita jatuh sakit, apalagi pasien dengan kondisi parah atau kematian.

Untuk kelengkapan presentasi data saja, saya merasa perlu menyebutkan bahwa banyak orang Bali yang bekerja di kapal pesiar di seluruh dunia. Dan kita tahu bahwa kapal pesiar adalah tempat perkembangbiakan yang ideal untuk virus Covid-19.

Mayoritas para pekerja di kapal pesiar ini sudah pulang ke Bali dalam beberapa minggu terakhir. Sebagian besar dari mereka malah belum di tes atau dikarantina.

Jadi, apa sih yang sebenarnya terjadi di sini?

Bali dan Herd Immunity.

Beberapa orang telah mengklaim bahwa Bali tampaknya membangun herd immunity lebih cepat dibanding negara lain di dunia.

Walaupun saya setuju dengan pengamatan ini, saya merasa kita harus lebih memfokuskan perhatian kita pada kenyataannya dimana cuma sedikit orang di Bali yang jatuh sakit, apalagi sampai meninggal dikarenakan penyakit corona

Saya ulang lagi bahwa saya bukan ahli epidemiologi atau virologi.

Pengalaman saya satu-satunya yang berkaitan dengan hal ini adalah saya didiagnosis dengan penyakit autoimun beberapa tahun yang lalu dan saya menjadi terobsesi tentang kesehatan, nutrisi dan semua yang berkaitan dengan kesehatan & nutrisi.

Saya menghabiskan berjam-jam mempelajari informasi tentang penyakit autoimun dan sistem kekebalan tubuh manusia.

Saya pribadi telah berhasil, baik itu melalui intervensi nutrisi ataupun perubahan gaya hidup lainnya, untuk memutar-balikkan kondisi autoimun saya hampir sepenuhnya. Saya merasa lebih sehat dibanding sebelumnya…

Aduh..! Kok saya jadi ngelantur.. 🤦🏽‍♀️

Dalam penelitian saya mengenai nutrisi dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup, pengertian saya tentang peran penting sistem kekebalan tubuh saya menjadi sangat jelas bagi saya.

Biar bagaimanapun, sistem kekebalan tubuh adalah garis pertahanan pertama kita dan yang nantinya akan menentukan seberapa baik tubuh kita mengatasi paparan konstan terhadap virus, bakteri, dan racun.

Banyak penelitian yang sudah membuktikan bahwa orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah adalah orang-orang yang lebih mudah terinfeksi atau bahkan menyebabkan kematian akibat penyakit komplikasi terkait Covid-19.

Para ahli virologi setuju bahwa sementara penjarakkan sosial, pelacakan, dan intervensi lain memang mengurangi penyebaran virus, tetap saja sistem kekebalan tubuh yang menentukan seberapa baik tubuh kita memerangi Covid-19 dan infeksi lainnya.

Angka-angka yang kita lihat di Amerika Serikat dan negara-negara dunia pertama lainnya sepertinya mengkonfirmasi hal tersebut. Faktanya Amerika Serikat memang memiliki tingkat orang yang menderita gaya hidup dan penyakit autoimun tertinggi di dunia.

Jadi cukup akurat untuk menyimpulkan bahwa rata-rata sistem kekebalan tubuh populasi di Amerika memang lemah.

Kalau di Bali malah sebaliknya.
Yaitu bahwa terlepas dari sudah merebaknya virus Covid-19 dimana-mana, sistem kekebalan tubuh warga Bali, tampaknya jauh lebih kuat dalam memerangi virus Ini.

Dengan mempertimbangkan bahwa Bali pasti memiliki paparan virus yang tinggi di bulan Desember 2019 dan sekarang barulah masuk akal untuk menarik dua kesimpulan berikut:

Pertama, bahwa sistem kekebalan tubuh warga Bali dan responsnya terhadap virus Covid-19 tampaknya bekerja jauh lebih baik dibanding di negara-negara lain dunia.

Dan yang kedua, walhasil populasi di Bali mungkin sudah mencapai tingkat Herd Immunity tinggi terhadap virus ini.

Saya benar-benar berharap bahwa ada pakar-pakar Imunologi dan Virologi bisa datang ke Bali dan melakukan penelitian lebih dalam mengenai hal ini.

Tentunya akan ada banyak pelajaran menarik yang bisa kita dipelajari dari kenapa Bali masih “belum” terpengaruh oleh COVID-19 yang pada saat Ini tengah mengakibatkan malapetaka di negara-negara lain didunia.

Bagaimana caranya supaya kita memiliki semacam Kekebalan terhadap dampak ekonomi… ?
Tolong dibantu..

Apakah ini suatu permintaan yang muluk-muluk?

Sayangnya, tidak ada sistem kekebalan atau obat-obatan untuk mengantisipasi dampak ekonomi dari pandemi ini yang kini telah merampas sumber pendapatan utama di Bali, yaitu pariwisata.

Kenyataannya lebih dari 70% pendapatan di Bali berasal dari industri pariwisata minggu lalu yang telah dinyatakan akan menurun selama beberapa waktu oleh sebagian besar pakar.

Oleh karena itu memang masuk akal dan bijaksana untuk berkesimpulan bahwa setelah nantinya bencana Covid-19 ini berlalu, akan lebih banyak lagi orang yang akan terpengaruh oleh dampak ekonomi yang akan terus bergaung selama beberapa waktu …

Bisa saja tingkat kesuksesan eksperimen melawan Covid-19 yang “tidak disengaja” di Bali ini cuma sekedar kebetulan/keberuntungan saja. Namun peluang untuk ini sangat tipis.

Atau bisa juga ada semacam kekuatan spiritual yang menjaga di Bali … Saya tidak bisa berkomentar mengenai ini karena saya tidak tahu bagaimana menavigasi ranah tahyul.

Demikian pengamatan saya…

Tetap aman dan jagalah kesehatan dan sampai jumpa di Bali…
Baik hanya untuk liburan ataupun untuk membangun sistem kekebalan tubuh Anda …

Apa pun alasan Anda mau datang berkunjung ke Bali, pulau kami yang indah ini pasti akan menyambut Anda.

Catatan redaksi:

Artikel asli dalam bahasa Inggris ditulis oleh: Dominik Vanyi – Fotografer yang tinggal di Bali.Diterjemahkan oleh Diana Rosa-bbnetwork. Dimuat di portal : www.medium.com edisi 17 April 2020.

 

Related Articles

2 Comments

  1. Astungkara kita di Bali selalu taat,patuh dan rajin melakukan YADNYA dengan tulus ikhlas tanpa pamrih,tanpa embel2 promosi apapun.IDA SANGHYANG WIDHI senantiasa memancarkan aura positif keniskalaanNYA.
    SEMOGA BALI SELALU SANTI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close