Bali

Bakmi Jawa asli Gunungkidul ada di Bali

Denpasar (BBN INDONESIA) – Bagi mereka yang pernah tinggal atau kuliah di Yogyakarta, tentu punya nostalgia khusus dengan Bakmi Jowo (Jawa) yang berasal dari Gunungkidul.

Jangan khawatir, Bakmi Jawa asli Gunungkidul itu kini bisa dinikmati di “Pulau Dewata” Bali. Datang saja ke Hotel Niki, Jalan Gatot Subroto (Gatsu) IV, Dauh Puri Kaja, Kota Denpasar, maka di sisi utara hotel itulah ada warung Bakmi Jawa itu.

“Dulu, kalau ada tugas malam atau mengerjakan skripsi pada tengah malam, tiba-tiba ada suara bakmi keliling, maka kami pun keluar untuk sekadar mengganjal perut di tengah malam,” ujar Umar Ibnu Alkhattab yang alumnus UGM Yogyakarta itu di warung itu, Kamis (1/10).

Baca juga: Polisi bina tukang bakso yang ludahi dagangannya

Bagi Kepala Ombudsman RI Perwakilan Bali itu, menikmati Bakmi Jawa asli Gunungkidul “Lek Mar 202” di Jalan Gatsu IV, Kota Denpasar itu membawa ingatannya ke Yogyakarta pada beberapa tahun silam.

“Makannya di Bali, tapi kenangannya di Yogyakarta. Apalagi, Bakmi Jawa asli Gunungkidul ‘Lek Mar 202’ di Gatsu IV ini diracik dan dimasak oleh beberapa orang yang sengaja datang dari Gunungkidul. Rasanya, mantap,” ucapnya.

Bakmi Jawa asli Gunungkidul, Jalan Gatot Subroto (Gatsu) IV, Dauh Puri Kaja, Kota Denpasar (utara Hotel Niki, Denpasar). (Foto Antara News Bali/Edy M Ya’kub/2020)

Tidak hanya itu, bakmi juga dimasak diatas tungku yang terbuat dari tanah liat. “Jadi, mirip di tempat aslinya sana, baik sarana maupun orangnya, tapi bisa dinikmati di sini (Denpasar, Bali),” ujarnya.

Caranya juga mirip aslinya, yakni satu masakan untuk satu porsi. “Jadi, waktunya lama, tapi di situlah kekhasannya,” tutur Umar yang menikmati bakmi goreng dengan dua orang temannya.

Baca juga: Hoaks, makan bakso sama es akibatkan kanker

Selain bakmi goreng, pengelola warung juga menyiapkan bakmi kuah. Untuk minumannya ada ronde yang rasanya juga khas, ada kolang-kaling, pentol, dan kacang.

“Mungkin kurang diberi suasana Jawa saja, seperti lukisan wayang atau batik Jawa, bahkan kalau perlu juga disertakan iringan musik Yogya,” tambahnya.

Ya, Pulau Dewata memang “miniatur” masyarakat dan sekaligus “etalase” kuliner Nusantara, jadi tunggu apalagi ?!.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close