Bali

Alas Kedaton Ditutup Gegara Corona, Ratusan Juta Lenyap, Dagang Sate Merana

Ket Foto: Pedagang Sate Ikan Tuna Ketut Sumatri di warungnya. Insert: Sekretaris Desa Adat Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan Bali, I Dewa Nyoman Suarta (bbn/db05)

Tabanan (BBN INDONESIA) – Selain memengaruhi kesehatan masyarakat, diperkirakan ribuan warga Bali juga terdampak krisis ekonomi karena tidak dapat bekerja akibat kebijakan pemerintah menutup bisnis dan membatasi jam operasional pasar guna mencegah perebakan virus Corona (Covid-19).

Ratusan sekolah, kampus, perkantoran, hotel, bar dan restoran, pusat perbelanjaan dan komunitas kebugaran di Pulau Dewata ini sebagian besar telah ditutup, baik secara sukarela maupun karena perintah pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Bali yakni Alas Kedaton sebagai kawasan hutan kera dengan Pura Alas Kedaton di dalamnya yang dalam kondisi normal ramai dikunjungi wisatawan kini mendadak sepi karena ditutup semenjak merebaknya virus yang pandemik ke seluruh dunia tersebut. Seperti dipaparkan oleh Sekretaris Desa Adat Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali I Dewa Nyoman Suarta kepada beritabicaranetwork Minggu (12/4).

“Sebelum wabah Covid-19 pendapatan dari tiket masuk di obyek wisata Alas Kedaton rata-rata 120 juta per bulan. Dengan harga tiket 20 ribu per orang. Sejak dikeluarkannya surat edaran dari Pemkab Tabanan obyek wisata ini tidak diperbolehkan lagi menerima kunjungan wisatawan. 13 pegawai DTW pun dirumahkan oleh pengelola karena tak mampu untuk menggaji lagi. Kini hanya mempekerjakan 3 orang karyawan yang bertugas bersih-bersih dan memberi makan sekitar 2.000 ekor kera yang pakannya ketela dan jagung dengan biaya Rp. 15 juta per bulan,” urainya.

Ketika ditanyakan apa yang akan dilakukannya jika wabah Covid-19 ini berlanjut hingga 3 bulan ke depan, ia tidak bisa menjawab dengan pasti terutama untuk memperbaiki kehidupan sosial dan pemulihan ekonomi masyakatnya.

Terus terang untuk saat ini kami masih fokus pada upaya pencegahan penularan virus Corona dan kesehatan warga dengan penyemprotan disinfektan oleh Satgas Gotong Royong Penanganan Covid-19 dan sosialisasi pencegahan penularan virus mematikan ini kepada warga kami. Memang sebelumnya ada wacana penggunaan Dana Desa untuk untuk memberikan bantuan berupa sembako pada warga yang tak mampu dan terdampak tapi hal itu masih menunggu dan melihat kondisi yang ada. Nanti rapat desa dengan instansi terkait lainnya yang memutuskan,” pungkasnya.

Sementara itu pedagang sate ikan laut atau sate languan yang berjualan di Br. Lodalang Jl. Raya Alas Kedaton, Desa Kukuh, Marga, Ketut Sumatri saat ditemui di warungnya Manik Sarining Amerta menuturkan penjualannya juga anjlok sekitar 50 persen lebih selama wabah Corona merebak.

Warung biasanya buka jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Pagi-pagi umumnya 10 orang yang makan di sini. Tapi saat ada pembatasan jam buka warung dari jam 10 sampai jam 5 sore saja, pembelinya sangat sedikit. Apalagi pelanggan dilarang makan di tempat. Penghasilan jadi tak seberapa bahkan merugi,” tuturnya penuh haru.

Ia berharap jika dalam 3 bulan ke depan situasinya masih berlanjut seperti ini, pemerintah agar memberikan bantuan kepada pelaku usaha kecil demi menyambung kehidupannya.

“Yang bikin saya mengurut dada, anak saya yang pramugari Garuda juga sudah diistirahatkan oleh maskapai penerbangannya karena pesawatnya sudah tak terbang lagi gara-gara Corona ini,. Supaya usaha kecil kami tetap jalan upah karyawan mungkin nanti terpaksa saya turunkan juga agar mereka sama-sama maklum dengan kondisi ini,” ungkap Sumatri menutup cerita sedihnya sembari melanjutkan mengipas-ngipas satenya di atas panggangan. (bbn/db05)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close